Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Tinah

6 min read

Orang-orang di komplek A tidak akan pernah melupakan si Tinah, perempuan kepala dua yang baru menikah dan baru saja pindah ke perkomplekan mereka. Tinah sering berteriak dan membuat kegaduhan, suaranya yang nyaring membuat warga sekitar merasa terganggu dengan sikap Tinah. Salah satu warga mengatakan, suami Tinah sangat cuek bahkan terlampau dingin. Lebih parah lagi dalam beberapa bulan pernikahan mereka, suaminya tidak pernah di rumah. Mungkin itu sebabnya si perempuan itu selalu merasa risih dan berteriak kepada warga-warga sekitar. “Istri kurang dimanja suami” tutur salah satu warga.

Suami Tinah bernama Agus, belum pernah terlihat warga bentuknya. Hanya Pak Deden selaku ketua RT dan beberapa warga saja yang pernah melihatnya ketika awal mula sepasang suami itu menetap di komplek ini. Setelah hari itu Agus tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Orang-orang berpikir barangkali Agus sibuk dengan pekerjaannya, perlu diketahui Agus merupakan seorang manajer di salah satu bank ternama yang rutin melakukan perjalanan keluar kota. Semenjak Agus menjadi manajer kini ia jarang pulang kerumah. Tapi bukan itu saja, ada hal lain yang menyebabkannya tidak pulang ke rumah yakni si Tinah istrinya yang mungkin mulai beranjak gila.

“Dia sudah gila. Dia itu gila, Tinah sudah gila!” Ucap Ratih diiringi tangisan dan ringkih ketakutan sambil berdiri di depan pintu rumahnya.

“Kenapa Ratih, kenapa engkau begitu takut dan berteriak di malam-malam begini?” Tanya Pak Deden ketua RT setempat.

“Si Tinah sudah gila, dia gila!” Jawab Ratih dengan gelengan kepalanya sembari jari telunjuknya menunjuk ke dalam rumah.

Perempuan itu terus berteriak dan mengatakan kata gila berkali-kali. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Ratih telah membuat orang-orang komplek A panik dan kebingungan. Warga menjadi bingung dan terus menanyakan berulang-kali sementara yang lain mencoba masuk ke rumah Ratih, entah kenapa Ratih ketakutan dan berteriak sambil terus menerus menuju ke dalam rumahnya.

“Kenapa denganmu Ratih? Tanya salah satu warga. “Kenapa kau mengatakan kalau Tinah gila?”

“Betul. Tinah sudah gila, buktinya dia memasuki rumahku diam-diam dan mengintip saat aku sedang mandi” Ucap Tinah.

Semua orang terkejut dan makin kebingungan, sementara itu Pak Deden segera memasuki rumah Ratih. “Tinah? kenapa kau berada di rumah Ratih malam-malam begini?”

Sebelumnya tentang Tinah, Tinah adalah perempuan yang mungkin kurang waras untuk dikatakan waras, ia kerap membuat onar di Komplek A. Sebelum Tinah datang, perkomplekan A yang hanya terdiri dari 10 rumah itu memiliki suasana aman dan tentram, didukung dengan cat tembok rumah yang hijau merata. Dengan langit jingga di bibir pantai di waktu senja lanskap itu telah membuat perkomplekan tersebut bagai surga yang fana. Tetapi semenjak Tinah pindah, lingkungan komplek A mulai dibanjiri dengan berbagai drama tak masuk akal, ketentraman komplek yang tadinya ada kini telah berubah menjadi keriuhan dan prasangka yang tak jelas antar warga. Tinah yang berumur 26 tahun, seorang lulusan S2 itu merupakan perempuan yang egois dan merasa selalu benar. Sudah berkali-kali Tinah membuat onar, ditambah dengan kebiasaannya yang sering melakukan pengaduan kepada Pak Deden mengenai kelakuan warga di komplek A semakin membuat warga jengkel jika melihat Tinah.

**

Sebelum kejadian malam itu di rumah Ratih, tepatnya dua minggu yang lalu. Tinah telah membuat keriuhan di komplek tersebut. Di waktu siang pada hari Jumat sekitar pukul dua siang, terjadi keributan di rumah Ratih. Tinah melaporkan Ratih ke Pak Deden atas kebiasaan Ratih yang suka mandi di subuh hari.

“Bodoh, sudah suami cuma guru honor masih saja mau bunting.” Ucap Tinah dengan wajah marah.

“Tak ada yang salah mbak Tinah, biar aku bodoh, tapi aku bisa membuat kasturi tumbuh di dalam tubuhku ini, daripada pintar tapi tak bisa membuat apa pun tumbuh, bahkan menumbuhkan kaktus saja di gurun tandus mbak gak bisa, kan?” Jawab Ratih.

Telinga tinah bagai disambar petir. Tinah tak habis pikir kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Ratih, Tinah membisu dan kemudian pergi ke rumahnya. Pak Deden kebingungan, ia bingung dengan tingkah warga barunya itu. Mau bagaimana pun Tinah terlalu mengurusi kehidupan pribadi Ratih. Saat itu Pak Deden tak bisa melawan Tinah, ia berusaha menjelaskan kepada Tinah agar tidak mengganggu kehidupan warga Komplek A. Tetapi untuk seorang lulusan S2 seperti Tinah perkataan pak RT tidak ada artinya, tentu Tinah merasa yang paling benar daripada Pak RT bahkan dari warga yang lain sekali pun.

Selama di rumah, Tinah selalu memikirkan perkataan Ratih, ia terus menatap ujung jalan dari balik jendela rumahnya. Tatapannya penuh dengan amarah dan kesedihan tetapi seringkali itu disembunyikan. Tinah tak mau suaminya tahu, kalau Tinah sosok perempuan yang selama ini dipuja-pujanya ternyata memiliki sifat manja sebagai seorang istri. Sifat tersebut ternyata menjadi hal yang dibenci oleh Agus dari seorang perempuan. Tinah tak mau ketahuan menangis atau bersedih, yang mana hal ini akan menambah hari di mana suaminya untuk tidak pulang ke rumah.

Tinah selalu berupaya menjadi perempuan independen. Tak hanya pintar, Tinah juga memiliki wajah yang cantik dan badan yang ideal. Dengan penampilan dan karakter seperti itulah ia akan mendapatkan kasih sayang suaminya, sebab Agus menyukai itu semua. Bagi Agus memiliki istri yang mandiri adalah kepuasan tersendiri. Bukan hanya itu Agus juga menyukai perempuan cantik terlebih yang memiliki pinggang ramping. Motif-motif personal Agus besar dampaknya dengan kondisi keluarga yang belum juga mempunyai momongan.

Tinah mempunyai itu semua—karir yang menjanjikan, kecantikan dan lainnya tetapi jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia iri dengan Ratih. Ratih perempuan bodoh, miskin dan berbadan gempal itu justru mendapatkan kasih sayang yang tak terkira dari suaminya Purnomo. Sedangkan dirinya berlagak menjadi istri mandiri dan sempurna, tak pernah mendapatkan kasih sayang begitu dalam dari Agus. Padahal dari lubuk hatinya Tinah menginginkan diperlakukan seperti Ratih.

Tinah memang sudah punya segalanya, tetapi kisah rumah tangganya dengan Agus memiliki beberapa masalah. Sehari sesudah mereka pindah ada sebuah kejadian yang menyebabkan Agus tak pernah pulang kerumah lagi. Waktu itu coba saja Tinah menurunkan egonya sedikit, mungkin Agus masih tetap berada di sisinya pada saat ini. Tetapi apa daya nasi sudah jadi bubur. Sesuatu yang sudah mati tidak bisa dihidupkan kembali. Maka untuk mengisi kesedihannya itu, sesekali Tinah berkhayal Agus suaminya itu pulang ke rumah dan tidur di sampingnya tiap malam. Khayalan itu sekilas seperti kenyataan. Tidak, Tinah tak berkhayal tetapi, itu memang Agus. Tiap malam sekitar dini hari Agus selalu datang kepada Tinah menemani perempuan itu tidur, kadang sesekali Tinah merasakan Agus mencium bibir kecilnya itu. Tapi rasanya aneh, bibir Agus dingin. Dan setiap pagi hari ketika hendak bangun, Tinah melihat ke arah kiri dan kanan kasurnya, Agus suaminya itu tidak ada. Tapi Tinah yakin Agus akan datang kembali di malam hari.

Ketika hendak keluar rumah, Tinah tidak sengaja melihat Ratih muntah-muntah. Melihat Ratih muntah mengingatkan Tinah sesuatu, ia kemudian pusing dan tiba-tiba marah dan kesal. Perempuan itu segera mendatangi Ratih dan mencelanya.

“Jadi perempuan jangan mau disetir suami, sekarang hamil, kan? Aduh mbak, anak mbak itu sudah empat orang. Ekonomi belum stabil tetapi mau nambah lagi, belum lagi kebiasaan suami, barangkali di luar sana suami mbak jajan, gugurkan saja janin itu!” Ucap Tinah.

Ratih kaget mendengar perkataan Tinah, kemudian ia tidak sengaja menampar wajah Tinah. Tinah tak habis pikir dengan respons Ratih, sudah baik dirinya memberikan nasihat malah dijawab dengan tamparan. Pada saat itulah Tinah kembali ke rumah Pak Deden dengan membawa laporan kalau Ratih sudah menamparnya.

Sepanjang jalan menuju rumah Pak Deden, air mata terlihat mengambang di mata Tinah, ia tak habis pikir Ratih hamil lagi. Ratih selalu melawannya, Tinah hanya berusaha menyelamatkan Ratih dari serangan psikologis yang barangkali akan menerkamnya suatu saat. Jika anak itu lahir kemungkinan Ratih akan bernasib sama seperti Tinah, ia akan mati tapi tubuhnya tetap hidup.

“Gila sudah Pak Deden, gila” Tutur Tinah ketika sampai di rumah Pak Deden. Saat itu terlihat Pak Deden sedang ngopi di teras rumahnya.

“Apanya yang gila mbak Tinah?” Tanya pak Deden.

“Ratih pak, Ratih berani menampar saya!”

Pak Deden bingung, Tinah melaporkan bahwa dirinya telah ditampar Ratih. Pak Deden kemudian berusaha menenangkan Tinah dan mengajak Tinah ke rumah Ratih untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sepanjang jalan Pak Deden memikirkan kenapa dua perempuan ini selalu bertengkar sebagai tetangga, ditambah si Tinah yang selalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Ratih.

Sesampai di rumah Ratih, Pak Deden berusaha bertanya kepada Ratih kenapa ia berani menampar tetangga nya si Tinah. “Begini pak RT, Tinah datang-datang ke rumah saya, ngomong kalau saya harus gugurkan janin saya sebab anak saya sudah empat. dikira saya dan suami gak bisa ngurus dan memenuhi kebutuhan anak-anak saya.”

Pak Deden kembali bingung, Tinah sudah keterlaluan dalam mencampuri urusan pribadi rumah tangga orang lain. Pak Deden kemudian mengusulkan kalau Tinah merasa terganggu dengan kegiatan dan perilaku Ratih, Tinah boleh pindah rumah ke jalan ujung agar tidak terjadi permasalahan lagi. Tetapi Tinah menolak, ia merasa nyaman dengan rumah yang sudah ia tepati, Tinah tidak mau pindah di rumah ujung. Mendengar itu semua Pak Deden mengambil sikap tegas, ia memberikan peringatan kepada Tinah. Jika Tinah tidak mau pindah ke rumah ujung maka ia harus pergi dari komplek ini. Kelakuan Tinah telah membuat para warga komplek A resah.

Tinah kemudian pergi dan berteriak kalau warga komplek A sudah gila dan tidak waras semua, “Orang kolot, aku tidak bisa diam. Ratih harus aku beri pelajaran, kalau tidak bayi yang tak berdosa itu akan mendapat kemalangan.”

Pada malam itulah Tinah masuk ke rumah Ratih, ia membawa obat penggugur janin, Tinah ingin memasukkan obat tersebut ke dalam galon air rumah Ratih, agar Ratih tak jadi hamil.

“Dasar perempuan gila.” Teriak Pak Deden.

“Kau Tinah sudah keterlaluan, kami tak paham pikiranmu bisa sejauh ini, kau berani masuk kerumah orang dan berencana meracuni, sungguh gila kau.” Ucap salah satu warga.

“Baiklah jika kau tidak mengalah, biar kami yang mengalah. Kau tinggal di sini semaumu, aku dan keluargaku saja yang pergi dari komplek ini.”

Semenjak malam itu Ratih pergi dari komplek A, dari kepergian Ratih beberapa hari kemudian warga yang lain juga ikut menyusul pindah. Sampai akhirnya Tinggallah Tinah di komplek A itu sendirian. Ia selalu termenung di balik jendela rumahnya, merenungi apa yang telah ia perbuat pada kandungannya. ia kadang menangis. Sesekali dirinya terlihat seperti menggendong seorang bayi. “Ratihku sayang” ucapnya. Nama bayi Tinah yang berumur 2 bulan di dalam kandungan yang telah dibunuhnya demi membahagiakan suaminya Agus. Tetapi malang, sehari ketika mereka pindah malam itu Agus mengetahui bayi yang tak diinginkannya tersebut telah digugurkan oleh Tinah, Agus syok, ia kemudian menceburkan dirinya ke laut yang tak jauh dari perkomplekannya, mayatnya membusuk mbusuk dan lenyap di kedalaman laut.

Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Suara

Redaksi Kolonian
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.