Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Suara

3 min read

Lantai putih yang di atasnya banyak bersereakn rambut rontok, baju-baju yang menggantung dan terlipat di berbagai sudut dan seperangkat alat tidur yang belum dirapikan jadi pemandangan yang runyam untuk dilihat.

“Ini yang kamu panggil kamar? Begitu kotor, ra. Kamarmu seperti gudang. Sungguh memalukan,” Suara Ibuku terdengar tak kenal lelah, menggema di ruang sempit 3×4 meter ini setiap pagi dan sore hari.

Kepalaku penuh kegelisahan, dengan satu pikiran yang mendominasi: Bagaimana caranya aku menyelesaikan tugas kuliah yang tenggat dikumpulkannya tengah malam ini? Omelan ibu yang tadi tak aku pedulikan. Laptop dibuka dan aku segera mengerjakan tugas kuliah.

Napas Ibuku terasa hangat di kupingku. Aku menoleh sejenak, ternyata ibu mengintip di belakangku. Ibuku bernama Delsi dengan usia mendekati 41 tahun yang kesehariannya hanya mengerjakan pekerjaan rumah (termasuk memarahiku)

“Berapa IPK-mu sekarang?” Tanyanya dengan nada penasaran.

“Oh, entahlah, aku lupa,” Jawabku.

“Sudah 3.5 belum?”

“Belum.”

“Lalu berapa? Apakah sudah melebihi Tiara, sepupumu itu? Tante Mira dari kemarin sibuk membanggakan anaknya lho.”

“Tidak tahu, Bu. Aku tidak memedulikan IPK.”

Kemudian dia membanjiri aku dengan berbagai pertanyaan, rupanya mencari celah pada pembelaanku. Dalam tarikan napasnya, aku mendengar sebuah luka. Ia telah dikhianati oleh Bapak. Karena keterpurukan yang dirasakan ibu, ia menumbuhkan dan merawat kebencian dengan menumpahkan semua emosinya ke hal-hal yang membuat jengkel dan menyalahkan seluruh dunia, termasuk diriku.

Swara, nama itu diberikan agar aku dapat memberikan suara indah terhadap keluarga kecil yang bapak dan ibu ciptakan dahulu. Namun sekarang berubah arti menjadi anak yang diperuntukkan menjadi wadah pengalihan rasa sakit ibu. Setiap keinginan dan kebutuhan ibu yang tidak dipenuhi oleh bapak dilampiaskan kepadaku, termasuk menuntut kesempurnaan dalam setiap aspek hidupku untuk menyembuhkan hatinya yang hancur oleh kebohongan dan perselingkuhan bapak.

“Eh, kamu ini kerjanya apa sih? Badanmu sudah membesar, kulitmu kusam dan tak terurus.”

Aku diamkan ucapan yang menyakitkan itu. Lalu aku putuskan untuk pergi mengerjakan tugasku di tempat lain tanpa perlu mendengar omelan ibu.

“Mau ke mana lagi malam-malam begini, anak gadis?” Tanya ibuku dengan nada nyinyir.

“Aku perlu mengerjakan tugas, bu.”

“Jam segini? Yakin mengerjakan tugas? Bukan mau lari dari masalah dengan pria? Sama seperti bapakmu,”

Ucapan Ibu kali ini benar-benar membuat emosiku tiba di puncaknya.

“Ya, aku akan bertemu dengan seseorang untuk mendapatkan uang. Agar tidak perlu lagi meminta darimu. Agar tidak lagi merepotkanmu,” Tegasku balas nyinyir.

Tamparan tiba-tiba mendarat di pipiku, menimbulkan rasa sakit dan perih. Ibuku dengan wajah memerah penuh amarah, tak terima dengan kata-kataku. Matanya—yang pernah penuh dengan cinta—kini merah oleh emosi yang telah lama ia simpan.

“Berani sekali kamu berkata begitu,” Ujarnya dengan tangannya yang meninggi menenteng sapu, siap untuk memukul.

Saat itu, aku memutuskan untuk meluapkan semua yang terpendam.

“Kamu marah kepadaku atas apa yang telah dilakukan bapak pada kita? Kubuat kamu teringat padanya, jadi aku pun harus disiksa?”

“Kalau ibu begitu kecewa dengan Swara hingga Swara tidak lagi dianggap sebagai anak Ibu, biarkan saja Tiara gantikan posisiku. Biarkan Swara menjadi anak Tante Mira, Swara rela kok.” Aku melanjutkan.

“Percuma ibu beri namaku Swara tapi ibu tidak pernah mendengar apa yang aku ucapkan atau setidaknya peduli dengan yang aku rasakan.”

Kata-kata itu menyakitkan tetapi lantas membuatnya terdiam. Ia terpaku dan akhirnya berhenti mengucapkan apa pun, hanya terus merapikan meja belajarku yang berantakan. Ibuku tidak mendengarkan saat itu. Ketika aku berlari keluar kamar dia tidak mengejar, dia membiarkanku pergi.

Jauh dari rumah, di sebuah meja di luar kos. Air mataku berderai sambil menghadapi tenggat waktu tugasku. Malu dan penyesalan menggebu mengikuti perang kata-kata dengan ibu. Meski aku mengerti kesakitan yang dialaminya, amarahku terhadapnya mendidih setiap kali kita bertemu. Impian lama untuk pergi telah terwujud. Namun kini, setiap pertemuan seperti membawa luka yang sudah tertutup untuk menganga kembali.

Ketika aku kembali ke kamar kos, ibu sudah tak ada. Ruangan tampak bersih dan rapi, seolah dia tak pernah ada di sana. Tak ada pesan, hanya keheningan yang menyaksikan.

Waktu mampu meredakan api, namun tidak kunjung mampu menyembuhkan luka yang terlanjur menghiasi relung hati. Setelah itu, hubunganku dan ibu jadi tak karuan, layaknya rambut-rambut yang jatuh di lantai kamarku dulu. Lalu seperti sinar bulan yang perlahan menerobos gelap, aku mulai menyadari sesuatu.

Kesedihan yang aku pendam, tidak bisa kuatasi sendiri, begitu pun dengan ibu. Aku sadar kami berdua adalah korban dari luka yang sama yang terus kami garami setiap kali kami bertemu. Apakah kemarahan adalah satu-satunya cara kami berkomunikasi?

Bertahun-tahun kemudian, beban itu mulai kulepaskan. Ketika jadwal kelulusanku mulai mendekat, jiwaku menguat dan perlahan hatiku terbuka untuk mengerti. Ibu dan aku sebetulnya adalah dua pohon yang terpaut erat oleh akar yang sama, meski kadang kami melupakan kenyataan itu.

Suatu sore, dengan napas dalam dan hati yang bergetar, aku memutuskan untuk kembali. Mengejutkan ibu dengan kunjungan yang tidak terduga. Aku perhatikan wajahnya yang lelah, keriput waktu telah mengukir cerita-ceritanya sendiri. Saat matanya bertemu dengan mataku, ada gurat kejutan, disusul dengan air mata yang tidak mampu dia tahan. Raguku terhapus saat dia memelukku erat. Tanpa kata-kata, kami menangis berbarengan.

“Swara… ibu,” Aku menggeleng perlahan.

“Tidak perlu bicara apa pun, bu. Aku mengerti.”

Kami duduk bersama, menceritakan kisah selama terpisah. Kini kami mengerti satu sama lain, satu hal yang tak pernah kami lakukan dari dulu.

Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Tinah

Redaksi Kolonian
6 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.