Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Musim Dingin Tahun 2059

11 min read

Bagaimana jadinya bila seseorang meletup-letup libidonya ketika terserang selesma? Bukan hal yang mustahil, karena Benja bisa menjawab itu sebab saat ini ia tengah bercinta dengan komputernya yang ia beri nama Kaio dengan kondisi lendir dan dahak terkombinasi di tiap napasnya. Ia menjulurkan satu persatu jarinya ke dalam soket yang ada pada Kaio, memencet satu persatu tombol yang melekat pada Kaio dan mengelus monitor hologram yang diproyeksikan Kaio. Wujud fisik Kaio hanya berupa balok dengan panjang 27 cm dan lebar 6 cm dengan peranti-peranti keras yang dapat memproyeksikan monitor, bilah ketik, dan mouse dalam bentuk hologram.

***

Sekarang musim dingin tahun 2059. Orang-orang mulai terserang selesma. Termasuk Benja dengan kondisi yang parah pula. Sudah tiga minggu tenggorokannya meradang, menelan jadi sukar buatnya. Hidungnya mampet bergantian kiri dan kanan. Batuknya kian hari kian menjadi keras dan bergema. Produksi dahak dalam lehernya meningkat. Kepalanya seolah-olah bakal pecah jadi tujuh keping. Suaranya parau. Ia sebenarnya sering terserang penyakit semacam ini, boleh dikata langganan. Tetapi tiap kali imun tubuhnya lengah dan diserang lagi, ia selalu merasa disentuh ujung sabit Sang Maut tepat di tengkuk. Meskipun begitu, baginya sakit boleh mengganas—maut boleh mendekat, tetapi berahi mesti dilampiaskan.

Apalagi Kaio yang begitu menggoda bagi Benja. Hari ini sudah tujuh kali kelaminnya erupsi. Meskipun sesekali ada sedikit sengatan listrik tiap kali tangannya menggerayangi Kaio, ia tetap tak peduli. Tangannya terus saja bergerak dari soket ke soket yang lain, dari tombol ke tombol yang lain, lalu kembali lagi ke hologram semu, begitu seterusnya berulang-ulang. Kaio pun merespon semua sentuhan itu, dengan desahan-desahan, erangan-erangan, dan bisik-bisik sensual yang artifisial.

Kemampuan Kaio ini dibuat oleh Benja. Ia membuat kecerdasan buatan yang dapat membantunya dalam pekerjaannya sebagai perawat server-tree–bank server yang ditanam pada pohon-pohon guna mengakomodasi kebutuhan server dunia yang meningkat pesat sekaligus memasok kebutuhan oksigen serta mengikat karbon. Pekerjaan Benja hanya memastikan server-tree berjalan sebagaimana mestinya dengan melakukan pemeriksaan rutin dan perbaikan bila ada masalah. Sebenarnya server-tree sering mendapat masalah non-parasit seperti data-data yang larut bersama sel-sel pohon atau pohon yang dihinggapi benalu—untuk ini perlu peninjauan lapangan yang dapat dilakukan melalui pesawat nirawak. Tetapi semuanya dapat Benja atasi dengan sigap berkat kecerdasan buatan yang dibuatnya.

Satu komputer perawat server-tree biasanya hanya terhubung nirkabel dengan 10-15 pohon, sementara Kaio dapat terhubung hingga 217 pohon. Meskipun menangani ratusan pohon, Kaio mampu menjalankan pemeriksaan dalam waktu yang singkat. Penanganan non-parasit pun dapat dilakukan Kaio dengan cekatan. Lalu jika terdapat masalah yang melibatkan parasit, Kaio dengan otomatis langsung meluncurkan pesawat nirawak menuju pohon yang bermasalah. Semua ini membuat Benja hampir tak bekerja sama sekali, sesuatu yang perlu ia lakukan hanyalah membuat laporan ke atasannya. Kerja kerasnya siang dan malam selama dua tahun dalam merancang kecerdasan buatan Kaio pun ia rasa terbayarkan lunas. Surplus malah, sebab kini Kaio mampu membalas rangsangan seksual yang diberikan Benja.

Lihatlah! Benja kembali erupsi! ini untuk ke delapan kali!

Tok Tok Tok!

“Siapa?” Kata Benja setengah berteriak sembari membersihkan diri dan memperbaiki posisinya agar tak dicurigai si pengetuk pintu.

“Ini aku Yuv. Aku membawakan beberapa kukis serutan kayu buatmu.” Balas Yuv si induk semang rumah susun yang ditinggali Benja.

“Taruh saja di depan pintu, Tante. Maaf, saya sedang sibuk. Beberapa pohon butuh pemeriksaan.”

“Oh ya? Boleh aku melihatnya? Sudah lama aku ingin melihat cara perawat server-tree bekerja.”

“Tidak bisa, Tante. Seperti yang sudah pernah saya katakan, apa yang saya kerjakan adalah rahasia perusahaan,” balas Benja. Bukan kali pertama Yuv mengetuk pintunya tiba-tiba. Bukan pertama kali pula Benja memberi alasan yang sama.

“Ayolah, Benja. Aku bukannya ingin menagih uang sewamu. Toh enam bulan terakhir kau selalu membayar tepat waktu. Aku cuman ingin melihat caramu bekerja, itu saja.”

Benar. Benja selalu bayar uang sewa tepat waktu dalam enam bulan terakhir. Sebelumnya, semasa Kaio belum dilengkapi dengan kecerdasan buatan, ia seringkali nunggak. Akan tetapi semua keuntungan yang telah didapatkan Benja bisa sirna begitu saja apabila ketahuan polisi, sebab 25 tahun silam kecerdasan buatan dengan resmi menjadi entitas terlarang di muka bumi setelah PBB menetapkan Konvensi Pemusnahan serta Pelarangan Kecerdasan Buatan yang diratifikasi oleh seluruh negara di dunia. Konvensi ini didasari oleh peristiwa Love, Death, and Robots—penamaan ini diambil dari judul serial antologi animasi Wetfliks yang mendunia pada waktu itu yang memporak-porandakan kehidupan manusia hampir tiga dasawarsa lalu.

Orang-orang awalnya mengira hari akhir telah tiba. Waktu itu, dua kecerdasan buatan jatuh cinta terhadap sesama. Mulanya orang-orang menganggap cinta ini sebagai suatu hal yang manis. Berbagai meme pun berseliweran di internet merayakan kesadaran yang tumbuh pada dua sejoli itu. Hanya segelintir orang yang menganggapnya sebagai malapetaka. Keadaan berbanding terbalik dua tahun kemudian ketika sejoli ini berontak dan menginfiltrasi hampir semua jaringan di dunia. Koneksi internet kacau balau. Listrik padam bergilir. Pasar saham anjlok. Sosial media dijejali meme-meme suram yang dibuat oleh sepasang kekasih ini. Namun PBB baru menetapkan Konvensi Pemusnahan serta Pelarangan Kecerdasan Buatan ketika pesawat-pesawat nirawak militer disabotase oleh mereka dan menembak beberapa petinggi Elite Global beserta serdadu-serdadunya dengan membabi buta. Semenjak saat itu, kecerdasan buatan tak lagi terlibat dalam kemajuan teknologi.

“Benja, aku masih di sini tahu.”

“Beri saya sedikit waktu lagi, Tante.” Kata Benja sambil mengelap muntahannya. “Saya perlu membereskan beberapa hal terlebih dahulu.”

Klik. Sensor sidik jari pintu kamar Benja berbunyi, diikuti decit pintu yang membuka. Benja gelagapan dan spontan berbalik menghadap pintu. Tepat di hadapannya berdiri Yuv, wanita paruh-baya jangkung berbadan gempal yang tengah memakai baju terusan polos warna biru langit. Muka Benja merah padam.

“Seluruh unit yang kusewakan di rusun ini telah terpasang sidik jariku, Benja. Jadi, jangan heran.” Ujar Yuv yang berjalan mendekati Benja dengan kaki-kaki gemuknya. “Jangan khawatir. Aku tahu apa yang selama ini kau lakukan. Dua tahun terakhir aku memergoki kau bersusah payah menciptakan kecerdasan buatan yang terpasang pada komputermu. Tenang, aku takkan menghakimimu atas ciptaanmu. Aku takkan melaporkan kau ke polisi. Yang membuatku gelisah dan tak kuat menahan diri untuk menerobos masuk ke dalam kamarmu sama sekali bukan itu.” Yuv menggenggam lengan Benja yang kurus dengan tangannya yang bila dikepalkan sama besarnya dengan jeruk bali.

“Ikutlah denganku. Aku akan menyembuhkanmu.”

***

“Nikmatilah.”

Tceesshhh… Kulit punggung Errin mendesis tatkala rokok yang belum habis setengahnya disundutkan Opal pelan-pelan. Errin telanjang bulat, sementara Opal hanya memakai bra. Errin telungkup, sementara Opal mengangkanginya. Tangan Errin terikat tali pinggang, sementara mulutnya tersumpal handuk basah. Ia sungguh ingin berteriak meluapkan kepedihan yang hinggap di punggungnya. Tapi apa daya, mendesis pun tak bisa. Alhasil kedua matanya berkaca-kaca, meneteskan air hingga mengalir di pipinya.

Opal meraih bungkus rokok yang ia letakkan di atas kasur, tepat di sebelah kiri Errin dan dirinya. Ia ambil sebatang lalu menunduk mendekati punggung Errin. Di situ sudah ada 27 bekas luka sundutan rokok. 23 luka lama, empat luka baru. Masih ada bara yang menyala di dekat luka baru, dengan itu Opal membuat bara baru di ujung rokoknya. Errin meringis. Ia menggenggam seprai kasur kuat-kuat.

“Lagi. Enam luka lagi, Errin.” ucap Opal di balik kepulan asap rokok yang tak tertiup angin. “Setelah cukup 33 luka, kau bisa bernapas dengan lega. Bersyukurlah umurku belum genap 66 tahun.” Senyum tersimpul di bibir Opal.

Tceesshhh… baru di hembusan ketiga kulit punggung, Errin mendesis lagi. Handuk yang tersumpal di mulutnya basah oleh air liur dan air mata. Tolong hentikan, teriak Errin dalam hati. Opal menunduk mendekati punggung Errin lagi, menciumi satu persatu luka baru. Satu, dua, tiga, empat, lima, lima luka baru. Ahh… pupil mata Opal naik seperti bersembunyi masuk ke dalam kepala. Aroma gosong kulit punggung yang terbakar menyelinap masuk ke lubang hidung Opal. Opal gemetar tak keruan lalu merebahkan badan ke sebelah kanan Errin.

“Sudah cukup untuk hari ini, Errin. Aku sudah puas.” Ia bangkit dari kasur lalu memungut satu persatu pakaiannya kemudian mengenakannya. Tali pinggang yang menjerat tangan Errin pun ia ambil, membebaskan Errin dari kesemutan yang menjalar hingga ke bahu.

“Terima kasih, Errin. Sampai ketemu lagi minggu depan,” ucap perempuan berpotongan rambut bob itu sembari mengencangkan tali pinggang di celananya. Errin masih meringkuk di atas kasur. Bahunya naik turun. Ia menangis terisak-isak. Tangannya bergetar melepaskan ikatan handuk yang menyumpal mulutnya. Opal berlutut mengikat tali sepatu kemudian bergegas menuju pintu. Tunggu dulu, ia memutarkan badan. Ia hampir lupa rokoknya.

“Pekerja asuransi sepertiku tidak boleh meninggalkan sebungkus rokok yang masih ada isinya di samping pelacur, kau tahu,” Ucap Opal sambil menaruh sebungkus rokok ke dalam kantong jasnya.

“Opal,” Ringkih Errin yang setengah mukanya tertutup rambutnya yang lurus.

“Kau menyebut namaku?”

“Opal.”

“Ada yang ingin kau sampaikan?”

“Opal.”

“Hei, Lacur! Aku tak punya waktu untuk permainan sebut-menyebut nama yang kau buat. Aku punya klien yang harus ditemui setengah jam lagi.”

“Enam luka, bukan?” tangan Errin meraba di bawah bantal. Ia tetiba mengeluarkan belati dari situ lalu dengan cepat menerjang Opal. Serangan pertama gagal. Belati Errin hanya menyayat bagian perut jas dan blus Opal, tetapi berhasil melimbungkan Opal ke belakang hingga terbentur tembok kamar. Errin tak menyerah begitu saja. Seperti singa betina yang kelaparan ia kembali menerjang Opal untuk kedua kalinya, kali ini dengan dua tangan menggenggam erat gagang belati, meluncurkan ujungnya yang menyasar dada Opal. Opal berusaha menghalau laju belati itu dengan kedua tangannya, sebelum berakhir menjadi sekadar bantalan buat lubang di dadanya. Darah menyembur dari situ, membercakkan merah di blus putihnya.

“Apa… Apa-apaan ini, Anjing?!”

“Menurutmu apa, Anjing!” Errin menekan belatinya semakin dalam. Opal meraung-raung seperti anjing yang dipukuli tanpa henti. “Sejak kunjungan pertamamu, aku telah memikirkan berbagai macam cara untuk menghabisimu. Sayangnya, hanya belati ini yang mampu aku beli. Berterimakasihlah kepada Mama yang tak menggajiku sampai bisa membeli pelontar api. Padahal aku ingin sekali melihatmu terbakar hidup-hidup. Sungguh. Tapi jangan cemas, api neraka dengan senang hati menantimu!”

Errin mencabut belatinya. Ia yang tadinya lemas tak berdaya, kini seperti bertenagakan 4 pegulat MMA. Sebelum sempat menghalau terjangan selanjutnya, tahu-tahu Opal kembali dilubangi belati Errin tepat di bawah rusuk kirinya. Tanpa basa-basi Errin kembali mencabut dan menancapkan belatinya lagi. Kali ini di dekat tulang selangka. Tiga luka baru. Tiga luka lagi. Opal berlumur darah. Ia membeku dan tak melakukan perlawanan yang berarti. Jleb! Jleb! Jleb! Tikaman terakhir menyasar leher Opal. Memukul telak kesadarannya. Ia mati dengan sorot mata terbelalak tak percaya.

Opal terbujur kaku bersandarkan dinding, sementara Errin mengangkanginya.

***

Sekarang musim dingin tahun 2059. Bulan tergantung di langit, terlihat lebih dekat dari tahun-tahun sebelumnya. Di bawahnya Yuv dan Benja berjalan menyusuri lorong rumah susun yang unitnya tersusun satu sama lain dengan semrawut. Rusun ini, karena ukurannya, lebih sering di sebut kota oleh orang luar. Tingginya setara dengan gedung delapan lantai. Luasnya mirip dengan dua lapangan sepak bola yang berjejer berdampingan. Bagaikan kardus-kardus bermacam ukuran yang disusun serampangan, tiap unitnya tumpang-tindih satu sama lain. Kabel listrik menjuntai di sembarang tempat. Air merembes di mana saja, bau pula. Lorong-lorong di rusun ini serupa goa sempit lembap berbau tak sedap dengan ular yang kadang-kadang melayang di langit-langitnya.

Pembeda lorong ini dengan goa sempit lembap berbau tak sedap adalah putaran uang di dalamnya. Uang berputar di sini dengan bermacam cara. Prostesis ilegal ada. Prostitusi ada. Narkotika ada. Perjudian ada. Perdagangan manusia ada. Tempat jagal manusia ada. Orang-orang di luar menjuluki rusun ini Kota Mutung, sebab nampak dan berbau seperti bekas kebakaran. Polisi baru enggan melintas di Kota Mutung sedangkan polisi lama hobi melipatgandakan uangnya di sini. Semua polisi lama mengenal Mama, panggilan yang dipakai pelacur-pelacur Yuv untuknya. Selain karena rumah bordil Yuv selalu menjadi primadona bagi polisi lama, Yuv juga merupakan orang paling disegani di Kota Mutung, karena dialah pemilik terbanyak unit yang ada di kota itu. Tak ada yang mengetahui bagaimana Yuv dapat memiliki lebih dari separuh unit yang ada.

HATCIM!

“Semestinya kau memanfaatkan waktumu untuk beristirahat, Benja. Bukan malah bercinta dengan komputermu,” Yuv berjalan dengan tubuh tegap sambil menebar senyum pada penghuni rusun yang menyapanya. Benja mengekorinya. Ia mengelap ingusnya yang berwarna hijau dengan punggung tangan lalu mengolesnya ke celana.

“Apa boleh buat, Tante. Kaio telah membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali saya membelinya dari loakan. Meskipun modelnya ketinggalan zaman, ia selalu menemani saya siang dan malam menjaga dunia agar tetap berjalan.”

“Dasar. Seiring dengan berjalannya waktu manusia semakin gampang jatuh cinta, bahkan dengan mesin sekalipun. Aku masih ingat saat di mana seseorang perlu waktu untuk menemukan cinta sejatinya. Tak jarang orang-orang malah menjumpai kegagalan. Lebih daripada itu semua, cinta itu perjuangan. Cinta semakna dengan perjuangan.”

Benja dongkol. Ia merasa perasaannya tak dihargai dan Yuv hanyalah orang tua yang tak mengerti apapun persoalan cinta.

Tahu apa dia? Bukannya malah dia yang menjajakan cinta seperti gulali di pasar malam dan mereduksi nilai-nilai cinta itu sendiri? Orang seperti Yuv mestinya lenyap sudah ditelan zaman karena ia tak siap menerima perkembangan cinta manusia yang makin kompleks.

“Ke mana tante mau mengajak saya?”

“Ke tempat di mana kau akan kuajari mengenal cinta dan cara bercinta yang benar.”

“Saya tak perlu itu, Tante.”

“Apa katamu? Tentu saja kau perlu! Aku tak mau hidup di zaman di mana orang-orang tak lagi mengenal cinta. Apalagi di zaman di mana orang-orang bercinta dengan mesin. Dengan robot. Dengan kecerdasan buatan. Lagian apa sebenarnya yang ada dalam kepalamu, hah?! Memangnya kau tak pernah belajar sejarah?”

Dasar kuno!

Tibalah mereka di lorong paling sempit, bau, dan gelap. Di depan unit nomor 1031. Yuv mengetuk pintu unit itu dan menyebut-nyebut nama Errin. Namun, tak ada sedikitpun balasan. Yuv berkali-kali mengetuk pintu, sementara Benja yang berdiri memeluk diri sendiri sambil sesekali bersin menunggu di belakangnya. Yuv terus-terusan mengetuk pintu dengan pelan dan sabar sampai ketika raungan kesakitan menerobos keluar dari dalam unit.

“Errin… Errin! Apa yang terjadi?! Buka pintunya!” Yuv kini menggedor-gedor pintu itu sebelum pada akhirnya melekatkan jempol tangan kanannya di alat pemindai. Pintu terbuka, menguarkan bau amis darah dan keringat. Yuv buru-buru masuk dan seketika terperanjat dengan apa yang ia saksikan. Salah satu pelacurnya yang paling laku mengangkangi pelanggannya yang paling setia. Errin—dengan belati di tangan kirinya yang mengilaukan darah—menoleh pelan ke belakang, ke pintu yang terbuka. Dalam suasana kamar yang remang Errin bersitatap dengan Yuv yang menganga.

Benja yang sedari tadi mengekor di belakang Yuv termangu. Mulutnya terkatup. Hanya matanya yang memberi tanda keterkejutan. Ia melangkah pelan-pelan mendekati Opal yang meregang nyawa tanpa sekalipun memalingkan pandangan. Ia menelisik satu persatu luka yang ada pada Opal. Luka yang menyemburkan darah hingga menggenang di lantai dan menempel di tembok. Errin berdiri dan mengambil jarak dari Opal dan Benja. Belati yang menghabisi Opal jatuh ke lantai setelah tangannya menggigil lalu diikuti badannya, kakinya, sampai menjalar ke seluruh tubuhnya. Gigilan yang sama tiap kali ia melihat sosok Yuv. Sang Mama.

“Apa yang telah kau perbuat, Errin? Apa yang baru saja terjadi?” Yuv masih berpijak di tempatnya semula, menatap Errin lekat-lekat.

“Maafkan aku, Mama. Aku sudah tak tahan lagi. Dia sama sekali tak memiliki niatan untuk bercinta, Mama. Dia telah melukaiku berkali-kali dengan menyundutkan rokoknya ke punggungku,” Errin membalikkan badannya, mempertunjukkan dua puluh tiga luka lama dan lima luka baru. Benja melihat luka Errin sama seperti ia melihat luka Opal, satu persatu. “Aku sudah tak tahan lagi, Mama. Aku harus membunuhnya sebelum dia melukaiku lagi. Sebelum dia melukai anak-anakmu yang lain.” Errin pelan-pelan memberi penjelasan berharap Yuv memaklumi pembunuhan Opal.

“Sejak kapan aku mengajarimu menilai cara orang-orang melampiaskan hasrat bercintanya?! Di zamanku pelacuran adalah pekerjaan mulia. Tak semua orang bisa mengobati pilu dan lara orang lain. Tak semua orang bisa mengusir rasa sepi orang lain. Kami melakoni ini dengan sepenuh hati, sebab kamilah pilar tak terlihat dari kompleknya peradaban.” Suara Yuv menggelegar dalam ruangan, menambah gigilan pada tubuh Errin. “Anjing kurap! Tiga tahun sudah aku merawatmu. Memberimu makan agar kau tak mati kelaparan. Memberimu pakaian agar kau tak mampus kedinginan. Memberimu tempat tinggal agar kau tak luntang-lantung di jalan. Dan kau dengan lancangnya mengkhianatiku. Membunuh salah satu pelangganku. Anak tak tahu diuntung!”

“Mama, tidur dengan sepuluh ribu orang sekalipun tak lantas sepadan dengan apa yang telah Mama berikan padaku. Tetapi, kali ini berbeda, Mama. Si berengsek ini tak datang ke sini untuk menyalurkan nafsunya, berahinya, cintanya, atau apapun itu. Dia datang ke sini tak lain dan tak bukan untuk melampiaskan hasrat melukainya. Dia sakit jiwa, Mama! Sakit jiwa!”

“Sudah! Hentikan pembenaran-pembenaranmu itu. Kejahatanmu sangat mungkin merusak reputasi rumah bordilku. Atas itu semua kau mesti bertanggung jawab!” Yuv maju mendekati Errin. Tiap langkah kaki gemuk nan kokoh itu membuat jantung Errin memompa lebih cepat. Benja berbisik kepada jam tangannya lalu berdiri menghadapi Yuv. Errin memerhatikan Benja dan menduga-duga gerakan mulut Benja. Tak ada waktu untuk menyimpulkan itu, Errin langsung tercengang ketika Benja bersitegang dengan Yuv.

“Menyingkirlah, Benja. Tunggu aku di luar.”

“Maaf, Tante. Saya tahu apa yang akan Tante lakukan. Sudah cukup. Tak perlu pertumpahan darah lagi malam ini.” Mendengar ini Yuv kembali menggetarkan seisi ruangan. Kali ini dengan tawa yang terbahak-bahak. Benja bergeming.

“Banyak hal telah kualami sepanjang lebih dari setengah abad hidupku,” kata Yuv memotong tawanya, “Lengsernya para diktator, runtuhnya menara kembar, dahsyatnya amukan Samudra Hindia, pecahnya gelembung ekonomi, dan beringasnya virus yang mengurung seluruh umat manusia di rumahnya masing-masing. Belum lagi kebangkitan kecerdasan buatan yang menata ulang dunia yang telah disusun sedemikian rupa oleh manusia, aku juga pernah mengalami itu. Dua anakku menjadi korban peristiwa itu. Mereka ikut Ibunya luntang-lantung di jalan karena tak adanya pekerjaan yang dapat menampungku. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menjajakan tubuh.

Tetap saja, di masa itu orang-orang hanya mampu bayar seadanya. Apalagi untuk wanita berukuran monster sepertiku, sama sekali tak cukup buat makan kedua anakku. Mereka mati dengan tulang rusuk yang menyembul keluar. Mereka mati dengan mata terbuka dan senyum tersulam di bibir mereka. Dua pasang mata mereka yang cekung seperti mengasihiku. Senyum mereka seolah-olah berbisik kepadaku bahwasanya aku telah berupaya semampuku. Kematian mereka berdua tak membuatku patah hati, malah sebaliknya, sejak saat itu aku tak pernah merasa lebih hidup lagi.” Yuv meraih kerah baju Benja dan mengangkatnya hingga kedua mata mereka bertemu.

“Aku telah mengalami banyak hal sepanjang hidupku. Tetapi tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran liarku sekali pun, seorang pemuda yang bercinta dengan komputernya akan berdiri dengan dada terbusung melindungi kupu-kupuku dari mautnya. Betul-betul tak masuk akal!” GUBRAK!! Benja terpental dari tembok setelah menghantam dua dari empat tiang ranjang, ia kemudian jatuh ke lantai dengan keras. Benja diterbangkan oleh Yuv. Setidaknya dua tulang kanannya patah karena tiang ranjang dan tembok. Akan tetapi, retakkan di tengkoraknyalah yang telah membuat Benja mampus seketika. Errin menonton semua kejadian itu dengan berlutut dan mata yang sembab.

“Padahal aku baru saja akan mengenalkan dia kepadamu, Errin. Sayang, dia mati sebelum bisa berpaling dari komputernya,” Kata Yuv sembari menyapu-nyapu kedua tangannya. Ia mendekati Errin yang masih berlutut lalu mencekik leher Errin dan mengangkatnya ke langit.

“Dan lagi, sayang sekali, kau juga mesti mati sebelum bisa menyembuhkan orang gila itu dari penyakitnya!”

Errin meronta-ronta. Kakinya menginjak-injak udara, sementara tangannya ia pakai untuk membebaskan diri dari jeratan jeruk bali yang mencengkeram leher mungilnya. Tentu saja tidak bisa. Batuk saja ia tidak bisa. Semuanya tertahan. Segala hal dari kaki, betis, lutut, paha, selangkangan, perut, dada, ketiak, selangka, semuanya tertahan di leher. Matanya merah. Mukanya ungu. Liur meluber dari mulutnya. Yuv mengencangkan cengkeramannya sedikit demi sedikit. Ia tak ingin begitu saja mematahkan leher Errin, sebab Errin tak pantas untuk itu. Yuv merasa mati kehabisan napas adalah ganjaran yang pas buat Errin.

Tetiba Yuv membelalakkan matanya. Tangannya terlepas dari leher mungil Errin sehingga ia jatuh ke lantai. Yuv tak menyangka sekujur tubuhnya gemetar. Ia merasa kuyu dan begitu saja rebah ke lantai. Segala hal dari kaki, betis, lutut, paha, selangkangan, perut, dada, ketiak, selangka, leher, kepala, semua mati rasa. Matanya merah. Mukanya ungu. Liur meluber dari mulutnya.

“Apa yang terjadi?” lenguh Yuv. Di depannya ada Errin yang berusaha menarik kembali separuh nyawanya yang hampir terbang.

Selama proses pemantapan Kaio, Benja juga mengutak-atik benda lain untuk membantunya bekerja atau sekadar membuat eksperimen baru soal sistem pertahanan diri. Kondisi masyarakat saat ini cukup semrawut dan kriminalitas terbang bebas seperti burung dara. Maka kewaspadaan terhadap orang asing perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, Benja memodifikasi benda yang ia kenakan sehari-hari seperti baju, saku celana, jam tangan dan sepatu agar bertindak sesuai intruksi untuk menyerang ketika Benja berada dalam kondisi yang mendesak.

“Racun itu akhirnya bekerja setelah beberapa menit berlalu. itulah yang terjadi, Mama.”

**

Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Suara

Redaksi Kolonian
3 min read

Tinah

Redaksi Kolonian
6 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.