Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Sebuah Ikhtisar Menguak Keadaan

3 min read

“Apa itu keadaan?”

Biasanya sebuah tulisan yang dimulai dengan pertanyaan, akan memberi sinyal bahwa tulisan itu akan menarik dalam topiknya tapi bisa juga membosankan untuk diikuti. Belum apa-apa, tulisan ini sudah memberikan dua kemungkinan ‘keadaan’ yang bertentangan dalam satu sifat. Bagaimana rasanya?

Saya di sini, yang menulis, sebutlah esai ini, tidak ingin mendorong anda sekalian kepada suatu arah pikiran selepas membaca tulisan ini. Sebab, ini hanya suatu dorongan ‘normal’—biasanya saya menyebut itu jika sedang dalam situasi mendapat ilham dalam menulis—setelah menonton sebuah film berjudul Hit Man. Jangan berpikir juga saya akan membahas film itu, bagaimana alur ceritanya, siapa saja pemerannya, atau apa inti ceritanya. Saya sebagai penonton sepanjang hampir 120 menit film itu, terdistraksi oleh inti ‘keadaan’ yang membuat cerita dalam film itu bergerak dan berakhir. Berakhir sebagai sebuah film. Keadaan berbohong, keadaan berpura-pura, keadaan mencintai dan keadaan membenci bisa menjadi dorongan kita sebagai manusia untuk melakukan hal-hal yang mungkin di luar hal yang bisa kita lakukan. Contohnya seperti saya ini. Menulis esai ini karena keadaan setelah menonton film itu mendorong kesadaran saya untuk menyadari keadaan saya dan sekitar saya yang sedang berlangsung dalam 24 jam ini.

Bayangkan saja dalam kehidupan nyata saya kejujuran adalah nilai yang sangat penting dalam kehidupan, tetapi dalam film itu kepura-puraan dan kebohongan yang menggerakan cerita kehidupan para tokohnya. Dengan akhir yang bahagia pula. Betulkah bisa seperti itu? Itu pertanyaan awal saya setelah menyadari hal tersebut. Bayangkan saja sekali lagi dalam kehidupan nyata saya, hampir setiap hari mendengar warta-warta yang tidak masuk akal dan sulit untuk saya cerna yang akhirnya saya menyadari bahwa saya berpura-pura untuk tak menyadari dan tetap bersikap seperti ‘keadaan’ ini baik-baik saja. Kebohongan pertama yang saya sadari. Akhirnya, kejujuran tak ada apa-apanya.

Contoh kecilnya pada pemilu tempo lalu. Saat tahu bahwa ada salah satu paslon yang berhasil menggandeng anak presiden untuk nyalon, saya pikir saya sudah tahu siapa pemenangnya. Tetapi dari sebelum masa kampanye hingga kampanye berjalan, periode debat terbuka, sampai ke pemilihan, saya berpura-pura dan memegang kebohongan bahwa paslon itu tidak akan menang. Di satu sisi saya senang bahwa dugaan saya benar dan di sisi lain—sekarang ini—saya kecewa bahwa kebohongan yang ini tidak seperti akhir film Hit Man. Parahnya lagi, saya menjadi takut. Sebab ada tokoh-tokoh publik yang santer menyuarakan bahwa kita sedang masuk pada era pemerintahan dinasti jilid 2. Benarkah? Apakah ini sebuah kebohongan atau sebuah kejujuran?

Belakangan ini dalam sosial media saya, banyak berseliweran potongan-potongan video komedian dalam satu tarikan napas (stand up comedy), Pandji Pragiwaksono jadi narasumber dalam sebuah podcast yang membicarakan tentang keadaan politik negara ini. Sejujurnya, dalam kejujuran ini saya berpura-pura tidak mau tahu dan tak mau terlibat bahkan hanya dalam pikiran karena saya tahu itu akan melelahkan dan dalam keadaan saya sekarang, hal yang dibicarakan itu tidak begitu masalah. Bajingannya saya! Lagi-lagi tentang ‘keadaan’. Tetapi, lawan bicara Pandji dalam podcast itu banyak memberikan pernyataan seolah-olah ‘keadaan’ politik dinasti jika sama-sama menguntungkan atau membuat keadaan negara lebih baik, mengapa tidak. Kurang lebih seperti itulah yang saya tangkap. Secara histori saja, politik dinasti memiliki catatan yang kurang baik di negara ini. Di negara sana. Dan di negara mana pun. Tetapi sekarang saya sendiri menyadari kepura-puraan saya ini hampir menjadi sebuah kejujuran yang saya yakini, bahwa tidak ada yang masalah dengan politik dinasti itu. Sebab, setiap kali saya menyaksikan bagaimana sistem pemerintahan negara ini diusahakan oleh kepala negara, saya tetap berpura-pura itu akan baik-baik saja. Saya kira itu terjadi bukan kepada saya saja. Barangkali untuk anda juga. Saya dan anda berada di antara ‘keadaan’ yang kita purakan akan baik-baik saja dan ‘keadaan’ yang dalam dimensi kejujuran banyak hal yang tidak baik sedang terjadi di negara ini. Kesadaran akan ‘keadaan’ ini mulai meresahkan saya. Membuat saya menjadi manusia yang linglung dan tak tahu sikap. Apakah ini sebuah keberhasilan dari sebuah tujuan?

Keadaan’ semacam itu dewasa ini seringkali tak saya sadari. Apakah sebetulnya saya sedang dipermainkan oleh ‘keadaan’? Atau ‘keadaan’ yang sedang terjadi hari ini memang dimainkan oleh seseorang? ‘Keadaan’ antara sadar-tidak sadar bahwa ada berbagai macam kesalahan yang terjadi di negara ini seperti seorang ibu yang melecehkan anak kandungnya, sebut saja kegagalan aparat penegak hukum negara ini dalam mengungkap pembunuhan sepasang remaja sejak tahun 2016, baru-baru ini seorang bos rental kehilangan nyawanya karena dituduh mencuri oleh sekelompok orang saat ingin mengambil mobil rentalnya, dan seorang sekuriti yang kehilangan pekerjaan karena kecerobohan publik dalam mengungkap warta tanpa mendalami fakta. Ternyata, ada banyak ‘keadaan’ yang tidak saya sadari sudah masuk dalam tahap kekacauan di bawah kesadaran saya. Tetap saja, alam bawah sadar ikut bekerja dan selalu mengatakan kepada diri sendiri bahwa hari ini tetap baik-baik saja dan masih ada hal yang baik diusahakan oleh negara ini untuk warganya. Saya tidak tetap dalam ‘keadaan’ ini. Apakah ini sebuah kejujuran atau kebohongan dan kepura-puraan.

Hit Man adalah sebuah film yang dianggap agak nyata karena terinspirasi dari kisah hidup Garry Johnson. Di akhir cerita film, anak dari Garry Johnson dan Madison istrinya bertanya, “Ibu, di mana ibu bertemu dengan ayah?” Seperti yang saya bilang di atas bahwa film ini digerakan oleh kebohongan dan kepura-puraan tentunya Garry dan Madison agak kesulitan untuk menjawab. Lantas Madison menjawab seperti ini, “Ayah adalah pria terbaik yang pernah ibu kenal. Walau dia berpura-pura tangguh.” Dan Garry mengatakan bahwa Madison-lah yang membuat ia menjadi sosok yang baru dalam artian positif. Dus, di akhir film saya baru mengetahui bahwa pembunuhan yang dilakukan Garry di dalam film itu tidak pernah terjadi, walau Garry adalah seorang veteran perang Vietnam, seorang dosen, agen rahasia dari lebih 70 penangkapan. Tetapi film ini mengarang bagian pembunuhan itu yang saya kira membuat ‘keadaan’ lebih dramatis dalam mencapai akhir film yang happy ending.

Saya ingin membayangkan bagaimana jadinya jika jawaban Garry dan Madison saya ubah seperti ini, “Negara ini adalah negara terbaik yang pernah saya tinggali. Walau negara ini berpura-pura baik.” Dan saya juga berpikir bahwa negara ini telah membuat saya menjadi sosok yang baru dalam artian positif. Saya tidak mau berpikir seperti film Hit Man walau hanya dalam bayangan saja, bahwa untuk mencapai kesempurnaan kisah happy ending harus dibuat ‘keadaan’ pembunuhan dan ‘keadaan’ pura-pura atau kebohongan oleh negara.

penulis: a.s. zulfikar

editor: Reza Yudhistira

Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.