Aku Menyelundupkan Pink Floyd Lewat Kotak Surat

1 min read

Masuk.
Bung, masuk.
Bung!

Aih, entah sampai kapan orang-orang percaya
bahwa saku jaket dan saku celana adalah
jalur perdagangan paling fundamental.

Bung, sistem internasional ini sifatnya anarki!
Banyak-banyak lagi kau belajar soal negara.
Soal agama, biar Tuhan yang urus saja.
Hidup ini cuma bernapas secukupnya.

Di mana kotak suratmu, Bung? Letaknya?
Lepas pantai bandara? Ah, gila betul
kebijakan luar negeri empunya negara.
Apa mereka tak tahu globalisasi sudah melucuti
struktur-struktur Westphalia sampai mengancam
legitimasi negara? Para pemimpin negeri
memang tak becus memainkan catur diplomasi.

Seharusnya kita ini Bung yang tampil
di meja negosiasi. Kita nanti … mau apa?
Ah! Kita tanda tangani perjanjian ekonomi saja.
Perdagangan bebas lintas negara
demi tingkatkan taraf hidup petani bangsa.
Kalau ide ini terlalu utopis Bung, kita rangkul
organisasi regional di lampu merah depan sana.

Aku segera menuju kotak suratmu, Bung.
Di tasku ada paspor ajaib dan terselubung.
Di sebelahnya ada botol berisi paham-paham teroris
dan buku petunjuk menjadi separatis.

Kau tahu sebelas September, Bung? Apa jadinya
kalau pesawat yang aku tumpangi ini menabrak
markas PBB? Bercanda, ah. PBB sedang kencing
di celana. WTO seperti pasangan toksik yang
tidak berubah meski sudah 24 tahun bersama.
Aku tak mampu mengubah tatanan politik dunia.

Nasib baik kita belum mati karena Perang
Dunia Ketiga; jangan sampai ada Perang Dunia.
Presiden-presiden adidaya seperti bocah, Bung.
Rebutan bola, mengancam bawa orang tua.
Aduh, Bung. Aku merasa betul-betul berdosa.
Banyak orang di luar sana jadi pengungsi tanpa biara.
Anak-anak mati di medan pertempuran.
Kapal-kapal asing seperti matahari di pedesaan.

Tapi tenang, Bung. Jaringan kita di mana-mana.
Selera musik kita adalah dokumen negara
yang sangat rahasia. Kemarin The Wall laku keras,
tapi kurang adiktif. Dark Side of the Moon
barang panas minim komoditas. Kali ini, aku ingin
menggulung rumput yang ada di kover
Atom Heart Mother lalu membakarnya
di kotak suratmu. Adakah harapan buatku
dapat makan dari dagumu yang marxis itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.