Siti Rukiah Kertapati: Dari Buku Tandus hingga Penghapusan Zaman

5 min read

Siti Rukiah Kertapati atau lebih dikenal dengan sebutan Rukiah lahir pada tanggal 25 April 1927, di Purwakarta. Selama pendudukan Jepang, Rukiah muda dilatih untuk menjadi seorang guru. Kemudian pada tahun 1946 ia menerbitkan puisi pertamanya, ia pun mulai menulis pada majalah Godam Jelata yang uniknya salah satu pendiri majalah tersebut merupakan calon suaminya di masa depan yakni Sidik Kertapati.

Sebelum tergabung menjadi anggota Lekra, ia terlebih dahulu menjadi sekretaris di Pujangga Baru pada tahun 1950. Pada tahun berikutnya, ia menjadi editor pada majalah anak-anak terbitan Tjenderawasih. Barulah pada tahun 1959 ia tercatat sebagai anggota Lekra, pada periode ini Rukiah sudah mulai aktif menerbitkan karya-karya sastranya. Tercatat ia telah menerbitkan 22 puisi, enam cerita pendek dan satu novel yang diterbitkan oleh Pujangga Baru dengan judul Kejatuhan dan Hati.

Hampir keseluruhan ide cerita dalam karya-karya Rukiah menampilkan peperangan batin perempuan di masa revolusi kemerdekaan. Mungkin hal itu tak lain adalah wujud peperangan Rukiah dengan batinnya sendiri. Ada kecenderungan lainnya yang juga cukup logis kenapa Rukiah menulis dengan gaya seperti itu, karena masa kepenulisannya berada di tengah revolusi kemerdekaan yang mana peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu turut mengilhami pembangunan cerita yang dibuat oleh Rukiah. Perang batin itu berada dalam dunia batin personal (mikro) yang mempunyai korelasi sebab-akibat dengan urusan ideologi (makro).

Kekuatan gaya sastranya itu menempatkan Rukiah sebagai seorang pengarang yang bisa mendobrak majalah sastra bergengsi, seperti Pujangga Baru dan bekerja di sana bersama pengarang lainnya di tahun 1948. Di kemudian hari Rukiah untuk pertama kalinya sebagai penulis perempuan menerima hadiah BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) pada tahun 1952 untuk karya prosa Kejatuhan dan Hati. Itu artinya, rasa sastra Rukiah telah berhasil menerobos kanonisasi dunia sastra yang didominasi oleh laki-laki.

Pemikiran Emansipasi Siti Rukiah dalam Buku Tandus

Sebagai catatan, buku Tandus ini ditulis sebelum ia tergabung menjadi anggota Lekra. Maka dalam buku ini pemahaman Rukiah masih bersifat kontemporer, walaupun nantinya ia tergabung pada organisasi kebudayaan yang berhaluan kiri. Tokoh, latar dan alur yang terkandung dalam buku ini memang bersifat fiksi, namun Rukiah menafsirkan realitas sosial saat itu untuk dituangkan ke dalam karyanya. Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerpen merupakan tokoh pada era revolusi kemerdekaan. Cerita pendek tersebut merupakan sebuah narasi yang didasarkan pada dunia nyata atau bahkan kejadian yang memang benar-benar ada.

Beberapa hal yang menarik dari karya satu ini adalah bagaimana Rukiah merangkum isu-isu sosial yang selalu berkaitan dengan perempuan yang terjadi di tahun-tahun itu. Kesadarannya akan pemahaman emansipasi wanita menambah nilai tersendiri, dalam buku ini Rukiah menyinggung banyak hal yang belum bisa dilakukan oleh perempuan kala itu di ruang-ruang publik. Ia membahas secara eksplisit dalam karyanya mengenai penghilangan kemampuan perempuan dalam urusan negara, kemudian eksploitasi perempuan terhadap perjuangan revolusi kemerdekaan hingga domestifikasi yang terus langgeng hingga sekarang.                     

Perempuan mengotonomikan wilayahnya dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan melawan latar belakang tatanan sosio-kultural tradisional dan modern yang terbentuk. Seluruh pengetahuan, tindakan dan keinginan karakter perempuan yang dibatasi oleh praktik ideologi patriarki membuatnya tidak dapat membangun kembali institusi mereka.

Melalui narasinya, kehadiran identitas perempuan justru perlu memperlihatkan adanya konflik, baik bagi laki-laki ataupun perempuan lainnya. Rukiah dalam kumpulan cerpennya sebagai seorang pengarang terlihat berusaha untuk menampilkan gambaran perempuan yang anti-patriarki bahkan cenderung berupaya untuk mendekonstruksi dan menghancurkan status quo patriarki dengan pemikiran, ide dan ideologi pengarang yang masuk di dalamnya. Meski demikian, tanpa sadar Rukiah juga menunjukkan bahwa perempuan terintimidasi oleh karakter masyarakat patriarki yang ternyata telah mengendalikan kehidupan perempuan.

Latar belakang cerita ini adalah saat masa revolusi dan tokoh utamanya adalah rakyat kelas bawah. Meskipun sebagian besar narator yang ada dalam cerita adalah perempuan, protagonis laki-laki tetap dihadirkan dan memainkan peran kunci. Struktur ini mengingatkan kita pada komentar kritis Du Perron atas karya Soewarsih bahwa Sudarmo (suami) adalah pahlawan, bukan Sulastri (istri). Tulisan-tulisan perempuan Indonesia menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi inferior dibandingkan aktivis laki-laki dan gerilyawan dalam konteks politik Indonesia pada masa itu.

Prosa Rukiah dikemas dengan menggunakan kesederhanaan gaya, sebuah genre baru dalam perkembangan sastra Indonesia pada masa itu. Kesederhanaan itu tersaji dalam cerpen pertama berjudul “Mak Esah”, bercerita tentang seorang wanita tua yang tinggal sendirian di sebuah rumah yang berjarak 4 kilometer dari sebuah kampung bernama Tandjungrasa. Ini adalah satu-satunya cerita di mana Rukiah merinci lokasi desa protagonis, seolah-olah dia ingin menyoroti bahwa itu didasarkan pada kisah nyata.

Cerita itu menggambarkan wanita sebagai orang jujur yang hidup di dunianya sendiri dengan pemikiran sederhana, karena dia percaya bahwa dia telah melakukan perbuatan baik dalam hidupnya dan dengan demikian mengharapkan Tuhan akan membantunya. Ironisnya, kebaikan dan kesederhanaannya tidak melindunginya dari pengaruh peristiwa politik. Ceritanya memberi tahu pembaca bahwa orang-orang sebenarnya telah melupakan namanya dan malah memanggilnya dengan nama putra sulungnya yang meninggal saat pemberontakan komunis pada tahun 1926. Sejak saat itu, kesengsaraan terus datang ke dalam hidupnya. Suaminya meninggal pada awal Perang Pasifik dan putrinya meninggal karena malaria selama pendudukan Jepang di tahun 1942–1945. Selama masa revolusi, perempuan tua itu tidak percaya pada perubahan politik karena dia tidak melihat perbedaan makna merdeka. Baginya, merdeka berarti raja lain: seorang raja Indonesia dengan pitji (peci tradisional).

Kongres Lekra, Turba hingga Penghapusan Zaman

Rukiah yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) turut hadir dalam kongres nasional pertama Lekra di Solo pada Januari 1959. Sebagai perempuan, ia tidak kalah dengan para lelaki dalam menyumbangkan gagasan yang revolusioner untuk perkembangan kebudayaan di Indonesia. Ia turut menggagas konsep Turba akronim dari Turun ke Bawah yang harus diterapkan oleh pekerja seni yang tergabung dalam organisasi Lekra. Dalam kerja-kerja kebudayaan kreatif-inovatif, seniman-seniman Lekra diajak turut “Membantu aktif perombakan sisa-sisa kebudajaan pendjadjah jang mewariskan kebodohan, rasa rendah serta watak lemah pada sebagian bangsa kita.”

Turba menjadi salah satu metode observasi para seniman Lekra sebelum berproses kreatif, konsep yang dibawa oleh Rukiah ini bahkan diafirmasi dan diapresiasi oleh Njoto yang saat itu menjabat sebagai anggota Komite Sentra Partai Komunis Indonesia. “Saja pun setudju sekali dengan jang dikemukakan kawan Rukiah Kertapati bahwa jang diutamakan haruslah apa2 jang mengolah perdjuangan kaum buruh dan kaum tani dan dengan demikian kita ‘mem-bantu perdjuangan massa’ dan ‘mendorong perkembangan sedjarah’. Saja djuga setudju dengan andju-rannja, supaja LEKRA mengusahakan mengirimkan anggota2nja ke tempat2 penting, ke desa2 kaum tani dan ke kampung2 kaum buruh.”

Turba yang digagas oleh Rukiah sendiri bukan hanya sebentuk perlakuan dalam menyerap semangat kerja, perasaan dan penderitaan rakyat. Lebih jauh lagi, konsep ini menjadi basis metode yang berguna untuk memahami perkembangan sosial terbaru serta gerakan di desa-desa. Dengan demikian, tercapailah karya tersebut dalam memenuhi kriteria kekinian-revolusioner.

Pada prosesnya, Turba juga mesti dilandaskan pada tujuh pedoman yang dibagi menjadi 3-sama dan 4-djangan. 3-sama ialah singkatan ‘sama-makan, sama-kerja, sama-tidur’. Maksudnya, seniman diharuskan menikmati makanan yang sama dengan kaum tani, bekerja bersama di sawah atau ladang serta tidur dengan alas yang sama di rumah kaum tani. Sementara 4-djangan merupakan singkatan dari: djangan tidur di rumah kaum pengisap desa; djangan merepot-kan tuanrumah dan kaumtani; djangan menggurui kaum tani; djangan mentjatat di depan kaum tani.

Paling tidak gagasan Rukiah tentang Turba menjadi salah satu andil nyata dedikasinya dalam bidang kebudayaan Indonesia. Di tahun-tahun berikutnya ia tergabung dalam keanggotaan inti Lekra, pada tahun 1961 ia menjadi perwakilan Lekra dalam Kongres Penulis yang dilaksanakan di Jerman Timur. Pada periode ini juga ia mampu membagi pekerjaan domestik dan proses kreatif secara seimbang. Di mana ia masih aktif mengirimkan sejumlah puisi anak ke majalah Pustaka dan Budaya yang berjudul “Maju Jalan”, “Kerbau” dan “Pelaut”. Namun ia juga masih menjadi sosok ibu rumah tangga yang baik bagi keluarganya.

Kiprah Rukiah dalam dunia sastra berubah 180 derajat pasca peristiwa 1965. Rukiah yang memang tergabung dalam salah satu organisasi kebudayaan beraliran kiri ditangkap paksa dan kemudian menjadi tahanan politik di kompleks Corps Polisi Militer (CPM) Purwakarta dan rutan di Bandung. Ia dipisahkan dengan suami dan anak-anaknya. Tidak sampai situ saja penderitaannya, pemerintah peralihan menuju Orde Baru juga menyatakan bahwa karya-karya yang dihasilkan Rukiah merupakan karya terlarang dan peredarannya dibelenggu peraturan pemerintah.

Ironinya adalah H.B. Jassin yang cukup terkesan dengan dedikasi Rukiah dalam bidang sastra tidak memasukkan nama dan karya-karyanya dalam buku antologi sastra Indonesia karya Jassin. Alasannya jelas, bahwa nama Siti Rukiah Kertapati merupakan seniman kiri yang tergabung di dalam Lekra dan Rukiah juga menjadi kontributor untuk majalah PKI dan Gerwani. Sampai akhirnya ia dibebaskan dari penjara, namun ia masih tetap merasakan beratnya penindasan pemerintah Orde Baru terhadap simpatisan PKI. Ia terpaksa berpisah dari suaminya karena Sidik Kertapati sendiri harus melarikan diri ke luar negeri dan puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai seorang eksil untuk menghindari pembersihan simpatisan kiri yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.

Rukiah juga mengalami trauma yang berat pasca pembebasannya. Pembatasan dalam berkarya yang diterapkan oleh pemerintah Soeharto, membuat ia hanya melanjutkan kehidupannya sebagai pembuat kue, menjahit dan menyulam. Semua itu ia lakukan untuk membiayai kehidupan anak-anaknya. Nama dan sumbangsihnya terhadap laju kebudayaan Indonesia sengaja dihilangkan hanya karena ia terdaftar sebagai salah satu anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia.

Sumber Referensi:

Hidayati, Nur dkk. (2020). Narasi Domestikasi Perempuan Era Kemerdekaan pada Enam Cerpen S.Rukiah yang Terhimpun dalam Buku Tandus. Jurnal Wanita dan Keluarga, 1 (2).

Njoto. (1959). Dokumen Kongres Nasional Pertama Lembaga Kebudajaan Rakyat. Jakarta: Bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat.

Rosidi, Ajip. (2000). Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung:Putra A.Bardin.

Wirawan, Yerry. (2018). Independent Woman in Postcolonial Indonesia: Rereading the Works of Rukiah. Southest Asian Studies, 7 (1).

One Reply to “Siti Rukiah Kertapati: Dari Buku Tandus hingga Penghapusan Zaman”

  1. Saya membaca konsep Turba dari Rukiah ini serupa dengan metode riset yang dirumuskan PKI dalam Mengganyang Setan-Setan Desa (1964). Apakah memang metode riset tersebut terinspirasi dari Turba?

    1. Sebenarnya memang ini merupakan suatu konsep yang sama. PKI menggunakan konsep Turba melalui Barisan Tani Indonesia untuk menarik simpatisan buruh tani dalam menggayang setan-setan desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.