Coenrad Coolen dan Sejarah Masyarakat Jawa-Kristen di Jombang

5 min read

Dari sekian banyaknya kota di Indonesia yang memiliki julukan Kota Santri, apabila kita ingin menyebutnya satu per satu mungkin Kota Jombang adalah kota pertama yang disebutkan. Bukan tanpa alasan, di kota ini kabarnya ada lebih dari 150 pondok pesantren dan bukan hanya soal jumlah pondoknya saja. Julukan Kota Santri yang disematkan tentu tidak terlepas dari reputasi beberapa tokoh yang tidak terpisahkan dari Kota Jombang seperti Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, dan Abdurrahman Wahid. Ketiganya tidak bisa dilepaskan dari kota ini. Bermula dari Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Cukir yang melegenda sampai hari ini, lalu beliau dan keturunannya yakni Wahid Hasyim dan Abdurahman Wahid yang juga dikenal sebagai tokoh nasional semuanya dimakamkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Jumlah santri, tokoh nasional, dan tradisi keagamaan adalah sebab mengapa Kota Jombang dijuluki Kota Santri. Namun belum banyak orang yang mengetahui bahwa 50 tahun sebelum Pondok Pesantren Tebuireng didirikan, Kota Jombang adalah pusat penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Penyebaran agama Kristen dimulai tepatnya di Ngoro yang saat itu adalah hutan belantara oleh seorang yang bernama Coenrad Laurens Coolen atau yang lebih dikenal dengan C.L. Coolen atau Mbah Coolen. Ia adalah keturunan Rusia-Belanda dari ayahnya dan Jawa dari ibunya. Para misionaris Eropa di Jawa Timur kala itu hanya berkiprah di kota-kota besar seperti Malang dan Surabaya karena mereka terikat pada institusi agama pemerintah kolonial sehingga agama Kristen sering dicirikan dengan agama kaum elite. Fenomena ini nampaknya ditangkap dengan baik oleh Coolen yang akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai Sinder Blandong (pengawas hutan), dan memutuskan untuk membuka permukiman sekaligus lahan pertanian di daerah Ngoro, Jombang.

Awal Perjalanan Coolen

Singkat cerita, pemukiman yang Coolen rintis tersebut pada tahun 1834 tercatat telah dihuni oleh sekurang-kurangnya 200 orang dan pada tahun berikutnya sekitar 1000 orang pribumi telah menetap di desa tersebut dan Coolen mulai menyebarkan agama Kristen kepada penduduk Ngoro. Coolen yang hanya mengandalkan didikan agama dari orangtuanya serta keluwesannya bertutur Jawa membuatnya dengan mudah menggabungkan tradisi sesembahan dengan ajaran iman Kristen. Seperti tembang dan ajian (doa-doa), kepada Dewi Sri dan Gunung Semeru berbentuk syair namun diakhiri dengan menyebut nama Yesus Kristus. Coolen juga menerjemahkan “Pengakuan Iman Rasuli,” yang adalah ikrar suci dalam agama Kristen ke dalam Bahasa Jawa dan digunakan selayaknya doa sehari-hari. Begitu juga dengan hafalan-hafalan seperti “10 Firman Allah,” dan “Doa Bapa Kami.”

Singkatnya permukiman di Ngoro tersebut sampai tahun 1840-an dihuni oleh mayoritas orang Jawa Kristen berkat kristenisasi berbahasa Jawa yang dilakukan oleh Coolen. Para misionaris lain pada mulanya dikabarkan tidak terlalu keberatan dengan model kristenisasi yang dilakukan oleh Coolen mengingat hal itu juga dipraktikan di tempat lain. Namun yang menjadi masalah adalah idealisme Coolen yang tidak berhenti di situ. Coolen sampai di titik di mana ia menolak segala sakramen suci yang dikenal dalam agama Kristen Protestan, yakni Baptisan dan Perjamuan Kudus. Ia merasa Kristen yang demikian adalah Kristen milik orang-orang Eropa dan orang Jawa-Kristen tidak perlu mengikuti praktik tersebut. Cukup beralasan apabila mengatakan bahwa Coolen seolah mencoba menjadi raja kecil di Ngoro.

Pertentangan Dua Penginjil dan Dua Mazhab

Antara tahun 1835-1840 seorang misionaris Protestan asal Jerman bernama Johannes Emde yang tiba di Surabaya ditugaskan untuk memulai misi penyebaran agama Kristen di bawah otoritas pemerintah kolonial. Johannes Emde membentuk komunitas orang Kristen di daerah Wiyung, Surabaya. Ia terlibat dalam beberapa proyek penerjemahan Kitab Injil ke dalam Bahasa Melayu. Atas kiprahnya itu ia kemudian dijuluki sebagai “Santo Surabaya.” Komunitas orang Kristen di Wiyung ini juga dihuni oleh banyak pribumi dan semakin berkembang dengan pesat di waktu yang bersamaan dengan tumbuh pesatnya pengikut Coolen di Ngoro, Jombang. Emde adalah seorang yang sangat pietis, sekalipun Emde telah menikahi wanita Jawa keturunan Keraton Solo. Ia tetap memunyai sikap yang sangat keras terhadap budaya jawa yang masih terbawa ke dalam praktik beragama. Emde mewajibkan pria pribumi yang memeluk agama Kristen untuk memotong rambutnya dan melarang semua pengikutnya menggunakan atribut Jawa seperti Kemben, Blangkon, Sarung, Jarik, dan menggantikannya dengan pakaian formal orang Eropa seperti celana panjang dan baju lengan panjang. Pengikutnya juga dilarang menghadiri acara-acara tradisi Jawa seperti slametan dan pertunjukan wayang. Oleh karena kebijakannya yang keras dan sangat berbanding terbalik dengan Coolen, Komunitas Emde kemudian dijuluki dengan sebutan Kristen Landa sementara Komunitas Coolen di Ngoro dijuluki Kristen Abangan.

Banyak misionaris di Surabaya yang mendengar tentang metode kristenisasi Coolen kemudian menghujat dan mengucilkan Komunitas Coolen tak terkecuali dari pengikut Emde sendiri. Coolen yang didapati menceraikan istrinya yang pertama dan menikahi dua wanita Jawa dalam waktu yang berbeda membuatnya mendapat tuduhan sebagai dukun atau pendeta gadungan mengingat perceraian adalah larangan keras bagi setiap orang Kristen berdasarkan doktrin gerejawi, apalagi menikahi lebih dari satu wanita. Ia pun tercatat mendapat hukuman pengasingan resmi dari otoritas gereja dan juga pemerintah kolonial di Surabaya atas praktik kristenisasi miliknya.

Namun Kota Surabaya dan Jombang yang bisa dibilang tidak terlampau jauh jaraknya, menjadi bom waktu bagi kedua komunitas ini untuk saling bersinggungan. Tercatat interaksi antara kedua kelompok ini diawali dengan seorang bernama Dasimah dari Komunitas Emde yang berkerabat dengan beberapa orang dari Komunitas Coolen. Mereka beberapa kali bertemu dan bertukar ilmu tentang ajaran agama yang mereka terima dan pada tahun 12 September 1844 tercatat ada lebih dari 40 warga yang berasal dari Ngoro memilih untuk dibaptis oleh Johannes Emde di Surabaya. Beberapa nama diantaranya beperan besar dalam penyebaran agama Kristen di Jombang dan Jawa Timur di kemudian hari seperti Paulus Tosari, Karolus Wiryoguno, dan Abisai Ditotruno. Coolen tersinggung dengan fakta bahwa warga Ngoro sudah dibaptis oleh Emde hingga akhirnya Coolen mengusir warga Ngoro yang telah dibaptis tersebut beserta harta benda mereka. Warga yang terusir ini kemudian membuka lahan permukiman di wilayah Jombang tepatnya enam kilometer dari Ngoro, yakni hutan yang terkenal angker di Mojowarno dan mereka pun memulai membangun permukiman orang Jawa-Kristen di sana.

Bermula di Jombang Hingga Seluruh Jawa Timur

Komunitas orang Jawa-Kristen di Mojowarno bisa dibilang adalah para pemeluk agama Kristen yang telah merasakan perbedaan dua doktrin yang sangat bertolak belakang dengan Paulus Tosari sebagai pemimpin mereka dan di bawah bimbingan misionaris Belanda bernama Jelle Elltjes Jellesma atau yang dikenal dengan Jellesma mereka didukung penuh oleh otoritas gereja di Surabaya dari segi pendanaan, sehingga Komunitas Mojowarno berkembang dengan begitu pesat meninggalkan Komunitas Ngoro hingga meninggalnya Coolen di tahun 1873. Komunitas Mojowarno mencoba mensinkretiskan kedua ajaran ini. Jellesma merasa bahwa orang Jawa-Kristen tidak baik apabila menjauhi identitas tradisi mereka mengingat mereka terlahir sebagai orang Jawa sehingga jemaat di Mojowarno tetap mempertahankan Bahasa Jawa sebagai media beribadah juga dengan atribut-atribut jawa namun tidak dengan tradisi-tradisi yang bersinggungan dengan sesembahan. Mereka melakukan sakramen-sakramen gereja dan mempelajari doa suci dalam Bahasa Belanda dan Melayu namun tetap menyelenggarakan pertunjukan wayang diiringi dengan tembang tanpa ada penari wanita.

Setelah Mojowarno, berdiri juga komunitas Jawa-Kristen lain di daerah Bongsorejo tidak jauh dari Mojowarno dan Tebuireng pada tahun 1889. Sehingga dapat dibilang Komunitas Mojowarno mempelopori berdirinya komunitas-komunitas Kristen di wilayah Jawa Timur yang lain dengan sistem kepemimpinan kegerejaan umum di mana pendeta adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin warga, juga pembuat kebijakan tertinggi. Di tahun 1880-an tercatat telah terdapat lebih dari 20 komunitas Jawa-Kristen yang tersebar di Jawa Timur yang sebagian besar berasal dari pengajaran komunitas Mojowarno.

Pada tahun 1923 diprakarsai oleh pemerintah kolonial, komunitas-komunitas di Jawa Timur dipertemukan untuk membuat perhimpunan komunitas gereja Jawa-Kristen di Jawa Timur dengan Mojowarno sebagai tempat kongres pertamanya. Dan di tahun 1930 perhimpunan tersebut resmi dideklarasikan berdiri dengan nama Gereja Kristen Jawi Wetan yang berpusat di Malang. Melalui wadah ini pendirian gereja dan penyebaran agama kepada orang Jawa menunjukkan hasil yang signifikan ditandai dengan hasil sensus gereja di tahun 1950 yang menunjukan jumlah jemaat GKJW total terdapat 70 Gereja di seluruh wilayah Jawa Timur dan hingga saat ini telah ada lebih dari 150 Gereja di bawah naungan GKJW.

Hingga saat ini doktrin agama yang diusung oleh GKJW menganut apa yang telah diwariskan oleh Coolen, Emde, dan Komunitas Mojowarno. Di mana tradisi-tradisi Jawa tetap dipertahankan hingga sekarang seperti lelang hasil bumi untuk dana pembangunan gereja, penggunaan kitab berbahasa Jawa untuk hari-hari tertentu, simbolisasi adat Jawa di acara gereja seperti peringatan hari bumi menggunakan Gong, Gamelan, dan Wayang. Tradisi sesembahan oleh warga juga tetap dilangsungkan hingga saat ini, persembahan ditujukan pada gereja dan kegiatan amal serta doa dan hafalan wajib yang diucapkan dalam bahasa Jawa. Bahkan di Mojowarno sebagai pionir gereja Jawa pertama, tradisi arak-arakan tumpeng dan hasil bumi yang disusun sedemikian tinggi untuk kemudian diarak keliling desa masih dipraktikan.

Komunitas Mojowarno secara resmi disahkan oleh pemerintah kolonial sebagai gereja pribumi pertama di Jawa Timur dengan nama GKJW Mojowarno. Sejak berkembang pesatnya komunitas di Mojowarno, Komunitas Coolen di Ngoro kehilangan nama dan terlupakan. Tidak banyak orang Jombang saat ini yang familiar dengan nama GKJW Ngoro. Namun dengan segala kontroversinya harus tetap diakui Coolen jadi yang pertama kali merintis komunitas Jawa-Kristen di Jombang sebagai komunitas dan gereja pribumi pertama di Jawa Timur. Fakta bahwa Kota Jombang dihuni oleh beberapa gereja pribumi kuno pertama-pertama di Jawa Timur serta tempat salah satu pesantren terbesar di Indonesia berdiri dengan guru serta kiainya yang melegenda menjadikan Jombang sebagai kota dengan warisan sejarah-budaya yang tidak ternilai.

REFERENSI

https://tirto.id/dakwah-kristen-jawa-ala-coenrad-laurens-coolen-cBLs

Abineno, Sejarah Gereja di Indonesia : Sebuah Antologi, tanpa tahun

Dewan Pembinaan Teologi, Sayalah GKJW : Materi Katekisasi Sidi GKJW, Malang, 2007

Sostenis Nggebu, Coenrad Laurens Coolen : Pioneer of Contextual Mission among Javanese Abangans, Evangelikal : Jurnal Teologi Injil dan Pembinaan Warga Jemaat

Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia, Koninklijke Brill Hotei Publishing, Leiden, 2008


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.