Shany Kasysyaf Penonton maraton, pembaca yang lamban. Sarjana psikologi yang senang menulis dan mengamati media sosial.

Residu Metal dan Hiphop dalam Lintasan Sejarah K-Pop

4 min read

Titimangsa 1990-an, harusnya jadi era terbaik bagi kancah musik keras di Korea Selatan. Persepsi khalayak pada genre ini bergeser ke arah yang lebih baik dibanding satu dekade sebelumnya. Grup-grup baru bermunculan di skena punk dan metal lokal dengan jumlah pendengar yang terus bertumbuh hingga lahirnya generasi kedua. 

Namun era ini bukan masa terbaik untuk Sinawe, grup heavy metal pertama di Negeri Ginsengband bentukan Shin Daechul, anak Shin Jung-hyeon penyanyi yang juga dijuluki bapak baptis musik cadas Korea Selatan. Setelah merilis album keempat yang bertajuk Four dengan track pamungkas Metalizer pada 1990. Grup ini justru bubar barisan di tahun 1991.   

Titik Nol 

Jeong Hyeon-cheol menyadari obsesinya pada musik yang tak terbendung dan akhirnya berdampak pada nilainya yang anjlok di seluruh pelajaran. Sampai akhirnya ngotot berhenti sekolah demi mengejar mimpi jadi musisi. Pilihan impulsif yang terlampau berani untuk ukuran remaja 15 tahun. Tapi kemauannya tersebut justru dapat restu dari sang ayah setelah lobi panjang yang makan waktu. 

Dua tahun kemudian, Hyeon-cheol menuai hasil dari keputusannya. Dia sempat jadi basis homeband di Woodstock, kafe milik Shin Jung-hyeon. Sampai akhirnya ditemukan oleh Shin Daechul, anak sang pemilik bisnis yang mengajaknya gabung ke Sinawe pada 1989. Tepat tiga tahun setelah band itu dibentuk. 

Sinawe memberinya kesempatan singkat mengasah keterampilan dan mencicipi adrenalin di atas panggung. Karena itu opsi prioritasnya saat band ini dibubarkan pada 1991 adalah membentuk grup sendiri bersama para musisi dari antah-berantah. 

Sayangnya rencana itu sulit diwujudkan karena jumlah pelaku genre musik cadas di negerinya yang sesuai kriterianya masih sedikit. Jadi mesti berburu personil ke tempat terdekat seperti Jepang. Untungnya, niatan itu urung dilakukan. 

Ledakan global hip-hop yang menjangkau Korea Selatan, mengenalkan referensi baru macam Beastie Boys, Rage Against The Machine, hingga House Of Pain. Memukau banyak anak muda termasuk Hyeon-cheol, rencananya jadi bergeser dan batal membentuk band cadasnya sendiri. Dia mulai beralih dari permainan heavy metal ke MIDI, bahkan sampai berguru tari kejang ke seorang profesional bernama Yang Hyun Suk.

Keduanya cepat akrab karena sang mentor suka musik yang dibuat oleh muridnya. Dari hubungan itulah lahir gagasan berkarya bareng, keduanya lantas mengajak seorang penari papan atas bernama Lee Sang-woo alias Lee Juno untuk bergabung. 

Proyek itu mereka namai Seo Taiji & Boys. Frasa awal adalah moniker Hyeon-cheol, sementara kata berikutnya mewakili Yang Hyun Suk dan Lee Juno. Grup inilah yang bakal mengubah wajah industri musik Korea Selatan untuk selamanya.

Cetak Biru K-Pop

Musik populer Korea Selatan yang sekarang kita kenal sebagai K-Pop, bisa dilacak bentuk awalnya sejak kemunculan The Kim Sisters pada 1950-an. Mereka adalah trio gadis yang hanya memahami hangul, tapi nekat bernyanyi dengan bahasa Inggris. Grup ini jadi ikon musik pertama di negaranya yang berhasil menembus chart Billboard.  

Namun untuk bentuk mutakhir yang paling familiar cetak biru K-Pop justru baru dimulai pada 11 April 1992. Ketika tiga anak muda menampilkan sebuah pertunjukan yang asing bagi penonton Korea dalam ajang pencarian bakat di MBC TV. 

Mereka membawakan lagu rap karangan sendiri yang padu dengan koreo tari kejang ala hiphop. Diiringi dentuman musik tekno yang bercampur distorsi melodius khas metalmereka adalah Seo Taiji & Boys. 

Meski menawarkan bentuk hiburan baru, grup ini gagal memukau para juri. Bahkan dapat nilai terendah dari semua peserta. Tapi di luar perkara kompetisi, mereka justru berhasil mencuri hati penonton.

Album debut self titled yang rilis sebulan sebelum pencarian bakat (23 Maret 1992), laris terjual 1,8 juta kopi dan merajai tangga lagu setelah penampilan mereka di televisi. Nyaris seluruh penghargaan musik disapu bersih hanya dalam setahun. Dari Golden Disc hingga Korean Music Awards.  

Kesuksesan itu jadi titik pijak untuk melahirkan album kedua (1993). Rilisan rap dengan pengaruh heavy metal dan musik tradisi Korea, tanpa menghilangkan elemen dansa dan lirik romantis yang membuatnya tetap komersial. 

Penjualannya menembus 2,2 juta kopi meski ada larangan tampil di KBS TV untuk promosi lantaran ekspresi busana para personil yang mengenakan tindik, celana sobek, juga rambut gimbal yang diasosiasikan sebagai pembangkangan terhadap norma sosial oleh otoritas. Namun itu tak berdampak apa-apa, mereka tetap menyabet Golden Disc dan penghargaan lain serta menyapu bersih seluruh tangga lagu. 

Sayangnya penjualan di album ketiga (1994), merosot tajam jadi 1,6 juta kopi. Pilihan artistik untuk berfokus pada warna heavy metal dan rock membuat porsi musik dansa yang disukai sebagian penggemar berkurang drastis. Mereka juga mulai menanggalkan citra romantis dan beralih ke lirik yang lebih kritis. 

Sebut saja materi seperti Classroom Idea yang dipenuhi growl. Lagu ini dituduh membawa pesan satanik. Padahal isinya menguliti dampak destruktif sistem pendidikan Korea terhadap anak, mirip Another Brick In The Wall milik Pink Floyd. Ada juga Dreaming of Bal-Hae yang membicarakan mimpi persatuan Utara-Selatan dan mengantarkan Golden Disc ke-3 pada grup ini. 

Tapi para dedengkotnya alih-alih kapok, malah makin brutal di album keempat. Elemen dansa sepenuhnya dihilangkan dan berfokus pada warna artistik yang dominan dari gangsta rap. Lahirlah Come Back Home. Lagu yang didaur ulang oleh BTS pada 2017 lalu. Menyusul materi paling eksplosif dalam karir musik grup ini, Sidae Yugam

Liriknya yang ingin disensor otoritas penyiaran Korea saat itu karena mengandung muatan kritik terhadap pemerintah, malah menjadikan albumnya laris terjual hingga 2,4 juta kopi ditahun 1995. Tahun yang sama dengan kembalinya Sinawe ke kancah musik negeri ginseng.

Sayangnya, itu jadi karya terakhir Seo Taiji & Boys. Rencana pensiun yang terpikirkan sejak produksi album keempat dan akhirnya benar-benar bubar jalan pada akhir Januari 1996. Alhasil bubarnya grup ini jadi berita besar dan bahkan jadi tajuk utama di seluruh pemberitaan. Alasanya disampaikan dengan jelas selama konferensi pers di Yurim Hall, Universitas Sungkyunkwan. Meski menikmati semua keuntungan dari popularitas, mereka rupanya terdampak kelelahan parah dari jadwal panggung padat dan urusan produksi yang berat. 

Warisan yang Kekal

Meski Seo Taiji & Boys tinggal nama sejak 27 tahun lalu. Pengaruh mereka tidak pernah pudar. Saat baru pensiun saja, grup ini sudah memberi dampak politik yang bukan main. Lagu Sidae Yugam yang sebelumnya kena sensor, rupanya memicu gelombang protes di berbagai titik. Akibatnya, pemerintah terpaksa menghapus aturan pra-sensor musik yang bertahun-tahun membungkam musisi di Korea Selatan.

Menurut peneliti Asia, Dobo Shim dalam makalahnya Hybridity and the rise of Korean popular culture in Asia, Seo Taiji & Boys bukan hanya mempelopori K-Pop dalam perkara musik dan busana yang memadukan berbagai referensi kontras. 

Kesuksesan mereka yang independen juga memberi kekuatan pada label dan agensi, sekaligus mengurangi kuasa televisi dalam industri hiburan dalam menentukan kelayakan standard selebritas. Riset yang dilakukan Samsung Economic Research Institute pada 1997, bahkan menyimpulkan grup ini sebagai produk budaya Korea paling berpengaruh. 

Keberhasilan mereka meramu formula tarian dan musik yang disukai pasar anak muda memang paten. Sejak muncul hingga pensiun banyak yang berusaha meniru racikan ini. SM Entertainment adalah yang paling awal dengan mengorbitkan boys group HOT (1996) dan girls group SIES (1997). 

Yang Hyun-suk, mantan personil Seo Taiji & Boys juga melakukan hal yang sama. Setelah grupnya bubar dia mendirikan agensi YG Entertainment dan sepenuhnya fokus di balik layar. Lalu dengan cepat kembali mendulang sukses lewat keberhasilan para artisnya di berbagai generasi. Termasuk Sechs Kies (1997), 1TYM (1998), Big Bang (2006), 2NE1 (2009), Psy (2012), iKon (2015), hingga Blackpink (2016).

Elemen hip-hop yang jadi salah satu identitas Seo Taiji & Boys bahkan masih dipertahankan oleh mayoritas musisi K-Pop sampai saat ini. Mereka yang membawakan musiknya dalam format grup idola, hampir pasti menyediakan slot untuk posisi rapper. 

Namun untuk warna artistik yang cadas seperti metal, hal serupa itu tidak terjadi. Terlepas dari fakta bahwa jenis musik ini pernah mengisi kebisingan awal di kancah pop Korea Selatan. Bahkan menempa salah satu pelopor K-Pop, Seo Taiji. Jika ada pengaruhnya yang tersisa. Musik metal dan segala turunannya paling banter hanya jadi sempalan kecil dalam aransemen atau jadi referensi busana yang selaras dengan tema lagu.  

K-Pop bisa dikata telah meminggirkan salah satu musik yang menentukan keberadaannya. Bahkan lebih jauh lagi, menenggelamkan format grup band di Korea Selatan yang di tempat lain masih berjaya sampai sekarang. 

Tapi tetap saja sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada K-Pop hari ini, seandainya metal dan hiphop tak pernah mengisi ceruk sejarahnya.

Shany Kasysyaf Penonton maraton, pembaca yang lamban. Sarjana psikologi yang senang menulis dan mengamati media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.