Apakah JKT48 sudah Mewarisi Spirit AKB48 di Indonesia? : Sebuah Risalah Singkat tentang Grup Idola dari Jepang

4 min read

JKT48 adalah grup idola dari Indonesia yang berdiri dengan semangat menciptakan tempat bagi para perempuan Indonesia dapat mewujudkan impian mereka. Sejak angkatan pertama yang terbentuk di tahun 2011 hingga sekarang angkatan sebelas, regenerasinya terus ada dan sebentar lagi sudah mau dibuka pendaftaran angkatan dua belas. Beberapa anggota yang terkenal di angkatan pertama adalah Nabilah, Melody, dan Haruka. Angkatan pertama itulah yang mengawali mulainya jejak langkah JKT48 di Jakarta hingga kota-kota lain di Indonesia sampai saat ini.

Konsep grup idola bisa juga dikatakan sebagai konsep akademi keartisan di mana setiap anggota yang lolos audisi akan dilatih menjadi idola yang multi talentamenari dan bernyanyi. JKT48 sendiri merupakan sister group dari AKB48 yang mengenalkan konsep idol group yang memopulerkan tag line idol you can meet dan tumbuh kembang bersama fans. JKT48 adalah sister group pertama yang berada di luar Jepang lalu setelahnya bermunculan sister group 48 dari negara lain seperti SNH48 (Shanghai), BNK48 (Bangkok), MNL48 (Manila), dan lain-lain.

Semua lagu JKT48 adalah lagu-lagu AKB48. Maka di tangan JKT48, lagu-lagu AKB48 diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Peran JKT48 adalah menerjemahkan lagu-lagu AKB48 ke bahasa Indonesia dengan tanpa mengurangi spirit dari lagu asalnya. Pada proses penerjemahannya, JKT48 melakukan penyesuaian dari kultur berbahasa. Misalnya lagu Karena Kusuka Dirimu terdapat satu kalimat yang menjadi perhatian saya pada penggalan reff yaitu “Karena kusuka, suka dirimu.” Lirik tersebut pada lagu asalnya yang dibawakan oleh AKB48 berbunyi, “Kimi no koto ga suki dakara,” yang jika diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia berarti, “Karena aku suka kamu.” Tetapi penerjemahan lagu tidaklah sama seperti proses mengalihbahasakan buku. Penerjemahan hanya sebatas bagaimana kalimat-kalimat diterjemahkan tanpa mengurangi atau menghilangkan isi dan maksud dari tulisan aslinya tanpa harus terlalu memperhatikan suku kata. Misal dalam novel bahasa Inggris ada kalimat, “because I like you,” ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan menjadi “Karena aku suka kamu.” Terjemahan tersebut sah-sah saja untuk digunakan, tetapi dalam penerjemahan lagu terkadang di beberapa bagian terjemahan harus mengikuti penggalan pelafalan dan jumlah suku kata dari sumber kalimat aslinya supaya tidak menghilangkan karakter lagu yang telah diciptakan. “Kimi no koto ga suki dakara” dan “karena aku suka kamu” memiliki arti yang sama, namun yang berbahasa Jepang memiliki sebelas suku kata, sedangkan yang berbahasa Indonesia hanya punya sembilan suku kata. Jika JKT48 hanya mengikuti terjemahan dasar maka akan menyisakan dua suku kata kosong yang ketika itu dinyanyikan akan memberi kesan gantung dari nada lagu asalnya saat dinyanyikan. Maka dalam versi JKT48, mereka menambahkan repetisi menjadi “Karena kusuka, suka dirimu.” Dengan begitu, “kimi no koto ga suki dakara” dan “karena kusuka, suka dirimu” memiliki jumlah suku kata yang sama (11), dan tanda koma tersebut untuk menandakan di mana penggalan pelafalannya berada: “ki-mi-no-ko-to-ga \\ su-ki-da-ka-ra” dan “ka-re-na-ku-su-ka \\ su-ka-di-ri-mu”.

Banyak lagu AKB48 yang lirik-liriknya ketika diterjemahkan berisi tentang pesan-pesan yang memberi motivasi dan semangat dalam menyikapi persoalan kehidupan. Sebagai contoh dalam lagu yang berjudul Locker Room Boy, “Bukan salah siapa pun, itu berarti lawan yang dihadapi adalah dirimu sendiri,” atau lagu Kelinci Pertama, “Siapa pun pastilah dapat merasakan bahwa dirinya hidup saat darahnya mengalir. jangan sia-siakan nyawamu!”

Bukan JKT48 yang membuat syair-syair lagu tersebut. JKT48 hanya menerjemahkannya, lalu menyampaikannya agar pesan-pesan tersebut tak berhenti sampai di Jepang saja. Maka kini pertanyaannya adalah kenapa AKB48 membuat syair-syair lagu yang seperti itu?

Pertanyaan di atas erat kaitannya dengan situasi dan kondisi yang terjadi di Jepang. seperti kita ketahui, kepulauan Jepang berada di tempat yang memungkinkan seringnya terjadi bencana alam. Jepang erat sejarahnya dengan peristiwa alam seperti Tsunami Tohoku 2011, Tsunami Sanriku 1896 dan Tsunami Nankaido 1707. Bencana alam tersebut membuat warga Jepang harus kompak mengikuti aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat untuk meminimalisir jatuhnya banyak korban. Musibah yang sudah sejak lama sekali mereka alami membuat mereka jadi terbiasa patuh pada aturan apa pun yang berlaku. Misalkan di satu tempat di Jepang lingkungannya itu sangat bersih. Ada dua alasan yang memungkinkan hal itu terjadi: Pertama, karena orang-orang Jepang sadar akan pentingnya menjaga kebersihan; kedua, karena itu memang sudah aturan yang berlaku di sana dan mau tak mau harus dipatuhi.

Malapetaka yang terjadi di Jepang membuat warganya mengalami keterpurukan. Hal itu berdampak pada keadaan lingkungan juga kesehatan jiwa orang-orang di sana. Jika bencana alam yang terjadi di Indonesia, seringkali ada alternatif bagi warganya untuk ‘memaklumi’ yang terjadi dengan menganggapnya sebagai ujian dari Tuhan dan berakhir dengan melantunkan doa-doa demi menyemangati diri dan berserah diri dari kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi karena kepercayaan di Jepang kepada Tuhan tidak sekental di Indonesia, maka lagu-lagu AKB48 hadir dengan peran untuk memberi semangat kepada orang-orang Jepang yang terkena dampak dari bencana yang terjadi. Maka tak heran pula ketika di Jepang terjadi bencana alam, AKB48 akan mengadakan konser untuk menggalang dana yang ditujukan untuk para korban.

JKT48 memiliki hubungan yang erat dengan fans-nya, yakni konsep idol you can meet. Maka ikatan fans dengan para idolanya cukup erat dan bersahaja. Hal tersebut yang membuat konser-konser JKT48 selalu ramai dihadiri para fansnya. Dalam perhatian saya, hampir di tiap konser JKT48 itu lebih banyak laki-lakinya dibanding perempuan. Ketika saya melihat konser-konsernya di internet pun beberapa cuplikan video menampilkan laki-laki yang memadati arena penonton, membentuk lingkaran sambil meneriakkan ‘oi’ berkali-kali dengan kompak di beberapa bagian lagu. Teriakan tersebut ternyata mengikuti ketukan nada lagu yang sedang berlangsung saat itu. Tak hanya itu, bahkan di bagian belakang lapangan tonton, beberapa bendera yang mengatasnamakan kumpulan penggemar dari berbagai daerah dikibar-kibarkan menyatakan keberadaan dan menunjukkan militansi fans yang dimiliki JKT48. Dari kerumunan penonton tersebut jumlah perempuan yang tergabung dalam euforia konser itu bisa dihitung dalam hitungan jari.

Di konser JKT48 yang pernah saya datangi ada hal-hal yang menarik saya sadari, seperti terdapat keleluasaan dalam mengekspresikan diri. Tak heran jika pada pertunjukan JKT48 banyak laki-laki yang datang untuk bernyanyi dan menari. Mereka menjadikan konser JKT48 sebagai alternatif melepaskan diri dari struktur masyarakat yang maskulin. Melihat para penonton laki-laki yang bisa berteriak dengan lantang dan begitu lega, saya menyimpulkan bahwa hanya di konser-konser JKT48 sajalah mereka bisa sejujur itu pada dirinya sendiri. Karena ketika mereka di luar konser JKT48, mereka akan kembali menjadi laki-laki yang mesti perkasa dari berbagai aspek rintangan kehidupan dan tabu rasanya jika harus menunjukkan kesedihan, kegelisahan, tangis, ketidaksanggupan, atau galau, yang biasanya akan dipendam dalam-dalam, sendiri-sendiri.

Banyaknya jumlah fans laki-laki membuat beragam pula alasan mereka menyukai JKT48. Dan dari beberapa alasan tersebut yang saya sayangkan adalah ketika beberapa dari mereka sampai terlampau berlebihan dan bahkan terbilang fanatik. Kagum pada salah satu oshi memang bukan suatu hal yang bisa ditolak lagi bagi para penggemar. Persoalannya kini adalah sejauh apa kekaguman tersebut dan seberapa mampu diri penggemar tetap tak hilang kendali atas rasa kagum itu. Ketika saya cari lebih dalam, ternyata di Jepang pun tak hanya soal AKB48 yang erat dengan penguntitan, namun hampir semua grup idola di sana sering kali harus berurusan dengan beberapa penggemar yang fanatik sampai menjadi penguntit hingga menunggu di depan rumah idolanya. Perilaku tersebut mengabaikan kenyataan bahwa para idola pun pada dasarnya manusia biasa seperti siapa pun yang butuh tempat aman dan nyaman.

Cukup disayangkan, di antara lagu-lagu JKT48 yang terkenal itu tak ada lagu Jangan Panggil Diriku Idol. Padahal lagu itu memiliki pesan yang saya rasa setiap penggemar harus benar-benar mendalami dan memaknai liriknya, “Aku belum terbiasa jika diberikan surat. Hadiah dan bersalaman, tak terbiasa. Perempuan yang ada di dalam impian mereka. Aku tak bisa menjadi seperti boneka.” Penggalan lirik tersebut berkisah tentang seorang idol yang selalu mendapatkan surat dari para penggemar, juga hadiah-hadiah yang sudah tak terhitung lagi. Dengan konsep 48 idol you can meet terdapat acara di mana para penggemar berkesempatan untuk bertemu dengan para idola, semacam meet and greet. Di kesempatan itu beberapa penggemar bersalaman dengan para idola, ada juga yang memberi hadiah seperti bunga atau surat. Lagu ini memberitahu bahwa sekali pun idola bukan tak mungkin untuk ditemui, tapi mereka juga pada dasarnya hanya manusia biasa yang terkadang canggung juga untuk menerima berbagai macam bentuk rasa kagum dari para penggemarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.