Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

Sastra Sebagai Wacana Industri Kreatif

2 min read


Perkembangan global mengenai langkah terbaru dalam menunjang gaya hidup dan kebutuhan budaya salah satunya dapat kita sikapi dari perkembangan di wilayah industri. Industri kreatif secara sederhana merupakan industri yang didasari oleh keterampilan, kreativitas, dan keahlian yang meliputi berbagai disiplin kesenian yang salah satunya adalah proses kreatif menciptakan karya sastra.


Dalam proses kepengarangan, orientasi karya yang diciptakan oleh para penulis tak sedikit hanya mendasar pada kepentingan kesastraan atau hal-hal lainnya. Apa pun dasarnya, karya sastra tetaplah kerja kreatif yang diharapkan memiliki andil dalam perkembangan di sektor industri kreatif yang berorientasi pada keterampilan, kreativitas, dan keahlian.


Industri adalah ruang untuk bergumulnya wacana-wacana kompetitif sebagai pendamping karya sastra atau produk kreatif lainnya yang telah selesai dan dapat dikonsumsi oleh publik. Persaingan pasar merupakan arena yang tak memiliki belas kasih dan tak berkesudahan karena selalu memicu para pekerja kreatif untuk menawarkan kebaruan-kebaruan nilai. Hal tersebut secara langsung memberi alternatif dalam menciptakan karya sastra yang selain menitikberatkan pada nilai susastra, juga titik beratnya ada pada nilai komersial. Pergeseran fungsi pun tak terelakkan yang sebelumnya karya sastra hanya sebagai produk budaya kini berkembang menjadi produk industri juga. Tetapi apakah industri kreatif khususnya dalam wilayah sastra sudah cukup matang untuk dikatakan sebagai sebuah industri? Atau itu hanya sebuah gagasan yang tak berkesudahan?


Logika industri membawa penulis menuju ketegangan-ketegangan karena mesti melakukan penyesuaian terhadap kepentingan pasar. Dari peristiwa ini juga konsumen (pembaca), dapat menundukkan penulis untuk menghasilkan karya sesuai keinginannya. Kapitalisasi seperti ini dapat ditelusuri dari marak terbitnya buku-buku ‘serupa’ dari segi isi atau bentuk dan itu dapat dengan mudah kita temui di toko-toko buku mayor.


Lalu sikap seperti apa yang mesti ditempuh penulis-penulis pemula dalam pergumulan karya dan industri kreatif? Uraian di atas katakanlah sebagai satu langkah lebih lanjut, mari beranjak.


Saat ini terdapat banyak pintu yang dapat dimasuki oleh para penulis. Pintu-pintu tersebut dengan sedimikian rupa menawarkan hal yang berbeda satu sama lain. Jumlah media yang berfokus pada penerimaan tulisan dari para pembaca kini tak terhitung jumlahnya, tentu itu adalah kabar menyenangkan bagi para penulis yang baru mau terjun ke dunia tulis-menulis karena memiliki banyak opsi untuk mengirim karya tulisnya maupun bagi para penulis yang sudah melanglangbuana di dunia kepenulisan.


Seperti taman bermain, katakanlah media-media tersebut sebagai sebuah wahana yang dapat dinikmati oleh para penulis sesukanya. Akan tetapi, setiap taman bermain memiliki ketentuan yang mesti dipatuhi oleh pengunjungnya (dan ada juga yang sedikit memiliki kelenturan aturan). Begitu juga yang terjadi di wilayah media dan para penulis, media memiliki dorongan untuk menerbitkan karya-karya yang menjanjikan sesuai dengan visi yang digaungkan, penulis pun memiliki spirit yang serupa untuk membuat tulisan sesuai dengan visi dari media tersebut.


Ketika penulis melakukan penyesuaian bentuk dengan visi yang digaungkan oleh sebuah media, itu adalah bentuk lain dari industri kreatif terhadap produk sastra yang dalam perspektif ini menunjukkan adanya perpindahan fokus dalam membuat karya tulis sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Terbit atau tidaknya tulisan tersebut adalah persoalan lain lagi karena itu melibatkan subjektivitas sebuah media dalam babak kuratorialnya. Meski penulis sudah mengikuti aturan dan ini-itunya, media tetap memiliki keputusan yang mutlak untuk menerbitkan tulisan tersebut atau tidak.


Pada akhirnya ada arus yang tersendat antara penulis dan medianya. Cepatnya kelahiran penulis semakin tak terbendung, melebihi jumlah media kompetitif saat ini dan memunculkan banyak problema dalam dunia kepenulisan. Seperti lambatnya respons media dalam mereaksi tulisan-tulisan, tuntutan ‘kebagusan’ yang diinginkan oleh sebuah media masih menjadi tanda tanya bagi sebagian besar penulis, media yang ‘seolah’ melotre karya agung tetapi tak ikut dalam pertaruhan ‘kebagusan’ yang sebetulnya media inginkan dalam kepenulisan, dominasi media mayor masih menjadi orientasi ‘kebagusan’ karya sastra saat ini, hingga susastra sebagai produk industri masih tidak cukup matang untuk menjadi pekerjaan pilihan bagi sebagian orang. Di sisi lain masih ada lulusan akademik sastra yang diorientasikan harus bisa menulis (paling tidak) padahal sastra tidak terbatas pada keterampilan menulis saja, karena menjalankan suatu ekosistem sastra yang masif membutuhkan lebih daripada hanya penulis saja.


Apakah mengikuti pasar atau gaya dari sebuah media adalah cara yang baik dalam melahirkan karya sastra? Atau seharusnya lebih baik penulis yang menawarkan karakter dari produknya (tulisan), kepada media dalam hal membangun ekosistem pasar penulisan agar lebih sehat dan beragam? Atau malah lebih dari itu semua, bahwa sastra tidak hanya membutuhkan penulis dan medianya saja. Tetapi membutuhkan hal-hal atau keterampilan lain yang sebetulnya menunjang industri kreatif ini.


Pertanyaan-pertanyaan dan problematika fafifu sastra dan industri kreatif ini hampir sama seperti lirik di salah satu lagu yang dinyanyikan Kantata Takwa yang berjudul Paman Doblang.


“kesadaran adalah matahari,” persoalan dan berkelumitnya industri kreatif terutama di wilayah kepenulisan mesti dikhidmati dengan ‘sadar’ agar mampu menyinari hal-hal yang gelap pada pokok pembahasan tulisan ini.

Redaksi Kolonian Segala yang ada di sini, mari kita rawat dan kembangkan.

One Reply to “Sastra Sebagai Wacana Industri Kreatif”

  1. Sastra yang sebenarnya, dalam perspektif saya, adalah karya tulis yang melekat dalam keseharian masyarakat, dirangkai sedemikian rupa sebagai cerminan kehidupan pada saat karya tersebut dibuat, sehingga bisa menjadi informasi dan pedoman bagi generasi berikutnya.

    Maka sebenarnya sastra ini sudah sesuai dengan pasar karena berkaitan erat dengan kenyataan. Sayangnya “pasar” lebih senang khayalan ketimbang fakta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.