Setelah Teka-teki Dirobohkan

4 min read

Ada sebuah tempat di Bogor yang masih menjadi teka-teki sejak awal tahun 1900. Bahkan pada masa perang tahun 1940 keberadaannya masih terus dipertanyakan. Tempat yang mengundang banyak tanya itu kini dikenal sebagai kawasan Air Mancur Bogor. Kamu yang tinggal di Bogor pasti cukup akrab dengan kawasan tersebut.

Lokasinya sejajar lurus dengan gerbang Istana Bogor, tepatnya di ujung Jalan Jenderal Sudirman. Masyarakat sekitar mengenal kawasan ini sebagai salah satu pusat kuliner yang ada di Bogor sebab di sana kita dapat menemukan berbagai jenis makanan. Saat malam hari, tempat ini jadi semakin meriah karena jumlah pedagang terus bertambah dan itu dibarengi dengan banyaknya pembeli. Lampu-lampu jalan, billboard, dan megahnya Istana Bogor menjadi pelengkap untuk menikmati jajanan atau makanan yang telah dibeli.

Selain menjadi pusat kuliner, di kawasan Air Mancur Bogor juga berdiri sebuah bangunan tepat di tengah-tengah persimpangan Jalan Jenderal Sudirman. Mungkin sebagian besar warga Bogor tak pernah tahu bahwa taman kecil di tengah persimpangan itu pernah menjadi tanda tanya besar yang membuat dewan kota dan peneliti gagal mendapatkan jawaban dalam penyelidikannya.

Pilar Misterius

Invansi Jepang di Hindia Belanda pada awal tahun 1940-an telah membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda kelimpungan. Sebelum menyerah terhadap Jepang pada 8 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda berusaha mengantisipasi serangan intens dari pihak Jepang. Salah satunya dengan melakukan upaya-upaya penyamaran di berbagai kota utama agar tidak mengundang perhatian musuh.

Di Bogor, salah satu bangunan yang berupaya disamarkan adalah pilar setinggi 24 meter yang disebut Witte Paal di Buitenzorg yang oleh masyarakat lokal disebut Pal Putih atau Pilar Pabaton. Pilar megah tersebut berada tak jauh dari Istana Bogor yang merupakan tempat Gubernur Jenderal Hindia Belanda tinggal. Keberadaan Pilar Putih itu berada tepat di lokasi Taman Air mancur yang kita kenal saat ini.

Saat upaya penyamaran dilakukan, masyarakat mulai bertanya-tanya fungsi dari pilar tinggi tersebut. Dalam salah satu terbitannya, Bataviaasche Nieuwsblad membahas monumen megah dengan jarum tajam dan gambar lambang Belanda itu. Dari hasil pembahasan tersebut semakin banyak pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat mengenai Pilar Putih. “Monumen itu untuk apa?” Bahkan jarum tajam yang terpasang padanya pun tak diketahui fungsinya.

Kebingungan tersebut akhirnya memicu diadakannya sebuah diskusi masyarakat di Buitenzorg dalam program Siapa dan Apa yang dimuat pada koran yang sama seminggu kemudian. Orang-orang mengajukan bermacam-macam anekdot tentang pilar tersebut. Tetapi intinya, tidak ada yang tahu sejarah pasti dan fungsi Pilar Putih. Bahkan Dewan Kota Buitenzorg pun tak berhasil menyelidiki tanggal dan alasan didirikannya Witte Paal di Buitenzorg.

Teka-teki sedikit tersingkap pada 3 Januari 1942 ketika Bataviaasch Nieuwsblad menuliskan hasil penyelidikan Dinas Penerangan Arsip Nasional Hindia Belanda yang mengungkapkan bahwa Pal Putih Buitenzorg dibangun tahun 1839 oleh Dominique Jacques de Eerens sebagai hadiah pernikahan untuk putrinya. Eerens merupakan Gubernur Jenderal yang memerintah dari 1836 hingga 1840. Ia meninggal mendadak pada 30 Mei 1840 dan dimakamkan di komplek pemakaman di Kebun Raya Bogor tak jauh dari gerbang belakang Istana Bogor.

Perhiasan Kota dan Tamu Besar

Jauh sebelum Bataviaasch Nieuwsblad membahas teka-teki Pal Putih di tahun 1940-an, sebetulnya pertanyaan yang sama sudah muncul sejak awal tahun 1900-an. Dalam buku Gids Voor Buitenzorg en Omstreken karya G. Kolff & Co yang terbit tahun 1905, menuliskan keheranan penulisnya, “Sungguh aneh tak ada keterangan apa pun pada tugu tersebut.”

Meski demikian, Kolff menulis dalam bukunya bahwa Pal Putih yang dibangun Eerens difungsikan sebagai perhiasan kota untuk memanjakan mata bagi penghuni istana saat berada di galeri depan Istana Bogor. Namun beberapa pihak berpendapat tugu megah dibangun untuk menyambut kedatangan Pangeran Hendrik dari Belanda.

Selain praduga tersebut, ada kemungkinan pilar tersebut merupakan patokan untuk menentukan waktu tempuh kendaraan berkuda yang banyak dipakai tahun 1800-an. Pada berita yang dimuat De Locomotief pada 10 Maret 1890 dikabarkan ada seorang pembalap kuda yang akan bertaruh mengendarai kuda dari Harmoni ke Witte Paal Buitenzorg selama empat Jam.

Sebelum beroperasinya jalur kereta Batavia-Buitenzorg pada 31 Januari 1873, Gubernur Jenderal Belanda pernah menempuh jalur Batavia-Buitenzorg yang keras, berbatu, dan menanjak tersebut kurang dari empat jam dengan kuda yang berlari kencang. Pada jalur tersebut terdapat 36 tiang dan Witte Paal Buitenzorg adalah tiang terakhir. Tiap sembilan tiang ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam.

Teka-teki ini dibahas lagi oleh Harian Kompas pada 13 September 1967 dalam tulisan berjudul Paal Putih, Air mancur, dan Sekarang Apa?  Kali ini sebuah bukti baru ditemukan.

Dalam tulisannya, Kompas mengatakan berdasarkan dokumen-dokumen dari Djawatan Topografie pilar setinggi 24 meter dibangun tahun 1866 dengan nomor Signum 122. Fungsinya sebagai excentrischpunt atau titik bantu untuk menetapkan koordinat dan ketinggian. Letak tertinggi mengacu pada titik di Istana Bogor. Sehingga jika dilihat saat itu, puncak pilar tepat sejajar dengan beranda istana.

Titik pembantu yang dibangun tentu saja tidak hanya Pal Putih di pusat kota itu. Ada juga patok di puncak Gunung Salak, Megamendung, Ciomas, Ciawi, dan di kubah tertinggi Istana Bogor. Khusus titik di Jalan Pabaton dibuat megah sebagai penunjang keindahan kota. Titik pembantu juga dibangun di luar Bogor karena titik ini berguna untuk pemetaan wilayah.

Gonta-ganti Slogan

Beberapa waktu lalu pengelolaan kawasan Air Mancur sempat dikritisi oleh masyarakat Bogor karena dijadikan lokasi pemasangan papan iklan yang terlalu mencolok. Seolah melanjutkan sejarah kawasan ini, dari masa ke masa slogan-slogan dipasang silih berganti sesuai kepentingan di masanya.

Di masa pendudukan Jepang, lambang Belanda pada pilar dicopot dan diganti dengan tulisan-tulisan kanji yang menyatakan telah tibanya Jepang di wilayah Bogor.

Di masa kemerdekaan Indonesia, tulisan kanji diganti dengan slogan-slogan perjuangan seperti Hands off Indonesia! Down with Imperialism, Sekali Merdeka Tetap Merdeka, dan lain-lain.

Selanjutnya ketika Belanda bersama sekutu berhasil menduduki Kota Bogor kembali, slogan kemerdekaan dihapus dan diganti menjadi Zeven December Divisie atau Divisi Tujuh Desember.

Di tahun 1949 slogan Zeven December Divisie dihapus pemerintah Kota Praja Bogor. Lalu akhirnya 20 Mei 1958, pilar yang sempat mengundang teka-teki itu dirobohkan oleh kaum progresif revolusioner yang menilainya sebagai simbol kolonial. Seiring robohnya pilar, hal itu berdampak pada hilangnya juga satu titik pembantu pemetaan tanah air.

Setelah pilar rata dengan tanah, terdengar selentingan kabar akan dibangun sebuah tugu nasional yang megah. Sayang karena tak ada biaya, cita-cita itu tak terlaksana. Baru tahun 1962 atas perintah Presiden Soekarno dibangunlan sebuah air mancur untuk menyemarakkan pesta olahraga Asian Games.

Semula usul ini diterima berat hati oleh bagian pekerjaan umum Kota Praja Bogor, karena saat itu rakyat sedang menjerit kekurangan air. Namun lewat sidang Dewan Permusyawarahan Rakyat Daerah keluarlah surat keputusan tentang pembangunan air mancur tersebut. Perhiasan kota tersebut menghamburkan air sebanyak 5.000 meter kubik tiap bulan atau setara kebutuhan air untuk 2.500 orang saat itu.

Di tahun 1966 Air Mancur itu pun dihentikan operasinya oleh bagian Pekerjaan Umum Kota Praja Bogor. Selanjutnya, kawasan Air Mancur itu menjadi terbengkalai. Kemudian setiap sore asap mengepul dari tempat tersebut karena dijadikan tempat pembakaran sampah!

Di kawasan bekas pilar berdiri, sempat dibangun taman dengan kolam. Lalu dipasang pula jam besar. Sayang, kolam dan jam ini kurang dirawat sehingga air kolam dibiarkan tidak mengalir dan jam besarnya tidak menyala. Kolam dan jam itu kemudian diganti dengan Taman Air Mancur seperti yang bisa kita lihat saat ini. Lokasi yang dulu penuh teka-teki itu selesai direvitalisasi pada Mei 2015.

Kini taman itu selalu tampil rapi dengan air mancur pendek yang dibiarkan terus menyala. Beberapa orang sering tampak duduk-duduk di pinggir taman sambil menikmati jajanan dan bertukar cerita—sebuah impian, kegelisahan, dan harapan warga kota tentang sulitnya mencari kerja, nikmatnya jajanan baru, menariknya mencoba motor listrik di trotoar, dan banyak cerita lainnya. Peristiwa itu memperbanyak kisah panjang sebuah pilar yang penuh teka-teki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.