‘BOGOR’

1 min read

Oposisi biner bertebaran di sepanjang puisi, “Bogor Bagiku Bukan Hanya Ruang Pengembaraan, Jauh Sebelum itu Melebihi Batas Waktu Persembunyian: Kelahiran dan Kematian.” Kelahiran dengan kematian, bahagia dengan menderita, desa dengan kota, dan seterusnya. Oposisi-oposisi tersebut dihadirkan oleh Si Aku yang melakukan perjalanan keluar atau masuk (baik fisik, sejarah, ataupun interpretasi), berbagai tempat di Bogor.

Sebagai respons atas puisi karya Teguh Tri Fauzi itu, ilustrasi ‘BOGOR’ berupaya untuk menangkap serta merangkum simbol-simbol yang bertebaran dan mewujudkannya sebagai gerbang awal pembaca kepada puisi yang ditulis oleh Teguh Tri Fauzi.

Oposisi biner tersebut kemudian coba dihadirkan dalam ilustrasi ini melalui simbol rusa terbang dan elang jawa yang terbaring mati. Simbol rusa diambil dari citra Istana Bogor yang ada di dalam teks, kemudian rusa dengan posisi terbang merupakan representasi fantasi pembangunan yang artifisial—meninggalkan tanah berpijak, dipadukan dengan ‘glowing’-nya cahaya warna-warni yang dibuat seolah-olah cantik serta melepaskan diri dari dampak negatifnya. Sedangkan elang yang mati dihadirkan sebagai citra masa lalu yang tersingkir, atau lebih tepatnya disingkirkan dari realitas sosial budaya saat ini.

Bogor sendiri sebagai sebuah wilayah geografis coba dihadirkan dalam wujud kotak (kardus) setengah terbuka dengan selotip jalan raya. Jalan merupakan unsur utama perjalanan, selain itu juga sebagai wujud suatu perkembangan pembangunan. Namun, jalan yang alih-alih sebagai penghubung, pada akhirnya ternyata memutus pertalian antara masa lalu dan hari ini. “ya, tak ada Sri Baduga Maharaja, atau Sangkuriang, apalagi Kabayan, atau nama-nama gaib dalam kelamnya budaya-sejarah yang tak kita kenal makna keberadaannya.” Alhasil, Bogor tetap menjadi rahasia baik untuk Si Aku maupun para pembaca yang terkemas rapi dalam sekotak kardus.

Ilustrasi ‘BOGOR’ sendiri merupakan karya ilustrasi digital yang dibuat dengan menggunakan aplikasi Sketch Sony Mobile, yang dengan kesederhanaanya mampu menyerap dan menghadirkan kembali simbol-simbol dalam puisi menjadi karya visual.

Bersama pengantar di atas saya menyatakan bahwa karya ilustrasi yang saya buat dan keikutsertaan pada Panggilan Ilustrasi yang diselenggarakan oleh kolonian.is adalah benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan karya orang lain. Apabila di kemudian hari karya saya tidak sesuai pernyataan ini, saya siap menerima konsekuensi dan bertanggung jawab terhadap pernyataan atau karya yang saya buat.

Gresik, 11 Juli 2022

Muhammad Muhrizul Gholy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.