Cerita Hantu

3 min read

Cerita Hantu-Kolonian

Ini adalah cerita kehidupan dunia hantu. Seperti kehidupan dunia manusia, dunia hantu juga memiliki kehidupan yang menarik. Hantu-hantu menciptakan kehidupan dari waktu yang berputar lebih lama dari kehidupan manusia. Dan para hantu membawa kehidupan sebelum mati dengan tujuan memiliki kehidupan seperti sebelumnya.

Pada suatu ketika di jalan setapak, terdapat hantu yang sedang berjalan sambil menggendong bayi. Bayi itu adalah anak kandung dari hantu itu. Sambil berjalan (walaupun tidak menapak), Hantu Pria itu menimang bayi yang ia amat sayangi sambil bersenandung agar bayinya tenang. Di malam yang suasananya mencekam dengan suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang, Hantu Pria itu tetap percaya diri berjalan menuju rumahnya. Anehnya walaupun ia hantu, ia tetap merasakan reaksi alami dari perasaannya yaitu ketakutan. Terlebih ia sedang membawa bayi yang konon di dunia hantu sangat diinginkan oleh hantu lainnya. Mempunyai bayi adalah impian bagi para hantu, khususnya hantu jenis kuntilanak. Karena di dunia hantu sangat membosankan, para kuntilanak ini mau mengurus bayi sekaligus bernostalgia dengan kehidupan sebelum mati. Untuk memenuhi kemauan mempunyai bayi, para kuntilanak mesti punya effort lebih dan hanya ada dua cara untuk mendapatkan bayi: Pertama, dengan cara merebut bayi milik hantu lain atau ke dua, melakukan perjanjian dengan manusia atau biasa yang dikenal di dunia manusia dengan tumbal.

Di tengah perjalanan kelamnya malam munculah hantu Kuntilanak Merah yang ingin merebut bayi Hantu Pria itu. Kuntilanak Merah itu terbang dan menghadang jalan Hantu Pria. Dengan matanya yang menyala sambil merentangkan kedua tangannya, kuntilanak Merah berkata pada hantu pria.

“Serahkan bayiku!”

Hantu pria tersebut ketakutan setengah mati (ya walaupun dia mati nggak setengah-setengah), karena yang menghadangnya ini Kuntilanak Merah. Ia pun memeluk erat bayinya. Karena sangat ketakutan, hantu pria meneteskan air mata yang mengenai bayinya dan bayinya pun menangis. Tangisan bayi membuat Kuntilanak Merah semakin bersemangat merebut bayi itu dari Hantu Pria. Lalu Hantu Pria lari berlawanan arah, sedangkan Kuntilanak Merah dengan sangat mudah mengikutinya dari belakang. Kuntilanak Merah hanya terbang di belakang hantu pria sambil tertawa melengking. Memang hantu pria ini adalah hantu baru yang belum mengetahui cara terbang. Ia baru mati sekitar empat puluh hari dan ia mati bersama istrinya yang sedang mengandung tiga bulan karena kecelakaan mobil yang tragis dan mati ditempat.

Balik lagi ke Hantu Pria yang melindungi bayinya dari sergapan Kuntilanak Merah, ia berlari ke rimbunan pepohonan menuju hutan. Karena pengetahuannya soal dunia hantu sangat sedikit, hantu pria itu tidak tahu kalau berlari ke hutan adalah keputusan yang tepat karena di dalam hutan lebih banyak hantu yang lebih tinggi derajatnya daripada si Kuntilanak Merah. Dan si Kuntilanak Merah pun berhenti mengikutinya. Melihat Kuntilanak Merah tidak lagi mengikutinya, Hantu Pria pun keluar dari rimbun pepohonan dan kembali berlari ke arah menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, hantu pria langsung bertemu istrinya, si Hantu Perempuan berjenis Kuntilanak Putih. Istrinya heran dan bertanya mengapa suaminya berlari dan sangat ketakutan. Hantu Pria pun bercerita bahwa ia diganggu oleh Kuntilanak Merah yang ingin merebut anak kesayangan mereka. Mendengar hal itu dan melihat suaminya yang sangat ketakutan, Hantu Perempuan tidak terima kalau Kuntilanak Merah mengganggu keluarganya. Akhirnya Hantu Perempuan mengambil keputusan untuk melindungi bayinya dengan cara memasukan kembali bayinya ke tempat paling aman yaitu rahimnya. Hantu Pria pun setuju akan hal itu karena ia berpikir kalau ia dan istrinya belum bisa melindungi bayinya di dunia para hantu ini. Mereka berdua sadar kalau mereka adalah hantu baru yang belum begitu mengetahui kehidupan dan pergaulan di dunia hantu.

Dengan disepakatinya cara itu, Hantu Perempuan memberi syarat kepada suaminya jika ia mau mengambil jalan ini, ia harus membantunya mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan rumah, menyiram tanaman, dan atau hal rumah tangga lainnya. Persyaratan itu dilandaskan dari pemikiran Hantu Perempuan yang akan mudah lelah dan mempunyai hak lebih untuk beristirahat karena mengandung. Hantu Pria pun setuju dan berjanji akan membantu istrinya itu dalam mengurus hal-hal rumah tangga.

Akhirnya mereka berdua melakukan ritual memasukan bayi ke dalam rahim Hantu Perempuan. Ritual tersebut dilakukan di ruangan yang gelap dan hanya menggunakan lilin sebagai penerangan serta taburan bunga tujuh rupa yang mengelilingi badan Hantu Perempuan. Setelah membaca mantra, Hantu Perempuan mempersilakan suaminya meniup vaginanya, lalu kemudian terjadilah hal mistik. Bayi tersebut perlahan ikut masuk ke dalam vagina mengikuti angin yang ditiup Hantu Pria, lalu perut Hantu Perempuan menjadi buncit berisi.

Keesokan harinya mereka mendapat kabar bahwa akan dikunjungi oleh kedua orangtua dari Hantu Pria. Lantas sang istri pun mempersiapkan kedatangan mertuanya itu dengan memasak, membersihkan rumah, mengurus taman, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Hantu Pria pun ikut membereskan rumah. Tetapi ia lupa bahwa istrinya itu sedang mengandung. Ia lebih banyak memerintah Hantu Perempuan untuk membereskan ini dan itu. Namun Hantu Perempuan masih sabar dan menuruti perintah suaminya karena tidak ada waktu untuk mengingatkannya.

Suatu hari, orangtua Hantu Pria itu akhirnya tiba. Memang perilaku hantu itu tidak mudah ditebak. Bilang mau datang tapi tidak memberi tahu kapan, tiba-tiba saja datang dan sudah duduk di meja makan. Sedikit heran dengan tingkah para hantu, hantu suami istri itu membiasakan diri dan ikut duduk. Sambil menikmati makanan yang telah disiapkan, mereka berbincang-bincang soal perjalanan yang jauh, keadaan rumah yang berantakan, keadaan makanan yang kurang mewah, dan hal-hal rumah tangga lainnya yang sering dibicarakan di meja makan. Mendengar ucapan-ucapan hantu mertuanya itu membuat Hantu Perempuan merasa sedih dan tak enak hati. Namun berbeda dengannya, Hantu Pria justru merasa kesal kepada istrinya karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orangtuanya.

Ibu dari hantu pria yang banyak omong itu tiba-tiba tersedak dan ingin mengambil gelas di meja makan. Namun di gelas itu ada seekor lalat mati. Hantu Ibu Mertua pun terkejut dan meminta gelas yang baru sambil berkata kasar. melihat ibunya marah, Hantu Pria itu melanggar janjinya, ia menyuruh istrinya dengan ketus dan kesal.

“Cepat ambilkan gelas baru untuk ibuku!”

Melihat sikap suaminya yang seperti itu kepadanya, Hantu Perempuan akhirnya murka. Ia marah setengah terbang, matanya merah menyala, rambutnya berubah menjadi kobaran api panas dan suaranya berubah menjadi menyeramkan.

“Hai suamiku, kau sudah melanggar janjimu padaku! Kau tidak membantuku meringankan pekerjaanku walau aku sedang mengandung. Aku mengandung anak kita karena kamu tidak bisa melindunginya! Kau tidak bijaksana sebagai suami maupun ayah! Aku istrimu, bersumpah akan meninggalkanmu dan hidup aman sendirian!”

Melihat pertengkaran itu, kedua orangtua Hantu Pria menyadari bahwa kedatangan mereka membuat rusak rumah tangga anaknya. Lalu sang istri pergi bersama bayi di perutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.