Deden Fahmi Fadilah Ingin menjadi ikan Koi!

Mengapa Orang-orang Merindukan Bulan Ramadan?

1 min read

Mengapa Orang-orang Merindukan Bulan Ramadan-Kolonian

Sudahkah Anda membaca berita digital atau menyimak berita tentang penangkapan seorang bupati (dan beberapa pasukannya) oleh KPK? Atau, sudahkan Anda mengonsumsi kabar mudik lebaran tahun ini di berita-berita di televisi? Sudahkah Anda update kabar perang Rusia dan Ukraina, dan bahkan tanggapan Nato karenanya? Sudahkan Anda melihat FYP Tiktok hari ini dan mengonsumsi hal viral di sana? Nah, baiklah. Jika sudah, maka syukurlah. Saya tak perlu lagi repot-repot membahas semua hal tersebut di sini.


Apa yang akan saya bahas di sini, boleh dibilang penting atau juga bahkan sangat tidak penting. Maka, saya bilang: boleh dibaca, dan bukan harus.


Saya hanya ingin membagikan pengalaman saya tentang menariknya suatu artikel bahasa yang ditulis oleh kawan saya dari Cianjur tentang kata “godin”. Nah, ketika Anda membaca kata “godin” tersebut, pastinya Anda punya bayangan makna dalam kepala Anda–atau Anda sangat fasih dalam hal ini karena merupakan pengamalnya (canda pengamal hehehe). Atau mungkin, ada yang belum tahu apa arti kata “godin” yang, FYI, hanya hadir dalam rangka bulan suci Ramadan? Atau Anda tak mengenalnya karena lebih akrab dengan kata “nyemen”? Ya sama sajalah, ya.


Kata teman saya, arti kata “godin” ini sangat lucu dalam pengertian masyarakat kita, khususnya di daerah Sunda. “Godin” sebagai kata musiman yang hanya keluar saat bulan puasa dengan pengertian “bolos puasa” atau “tidak berpuasa”. Padahal mungkin saja “godin” ini berasal dari sebuah kata dalam niat puasa. Coba lafalkan niat berpuasa: “nawaitu shauma ghadin… “. Nah, kan. Di situ tertera kata “ghadin” atau yang dilafalkan “godin”, yang artinya “esok hari”. Menarik, kan?


Jadi, ketika ada orang yang bercakap dengan yang lainnya dan membicarakan perihal tidak berpuasa dan menyebut “godin”, maka mereka sedang membicarakan “esok hari (saja puasanya)” atau seolah mengucapkan “tar sok” atau “entar besok”. Sungguh visioner, seakan esok harinya dia masih bisa melakukannya.


Ada lagi yang visioner semacam itu, yaitu terawih yang biasa dibilang “taraweh”. Coba ingat lagi, pernahkah kita membecandai salah satu ibadah khas bulan Ramadan itu? Misalkan saja, kita memplesetkan kata “taraweh” sebagai “tara weh” (Tidak pernah) atau “tar weh” (Nanti saja). Yang seakan-akan, dalam becandaan itu, kita sangat visioner dan menunda terawih hari itu karena besok pun (selama bulan Ramadan) terawih ini masih bisa dilakukan. Emejing!


Oke. Cukup dulu membahas “taraweh” dan “godin”-nya. Sejatinya, seperti halnya kata tersebut, banyak sekali hal-hal yang memang cuma datang saat bulan Ramadan dan membuat kita rindu akannya. Misalkan: terawih (taraweh), mudik, takjil, bukber, BSB, sahur, imsak, zakat fitrah, takbiran, bazar ramadan, dan THR pastinya.

Mau tidak mau, pasti yang terimbas dari beberapa hal yang ada dalam bulan suci Ramadan bisa jadi bukan hanya orang Islam saja. Misalkan, cuti lebaran, THR, mudik, dan menikmati panganan khas Ramadan, juga bisa dinikmati oleh teman-teman dari agama lain. Berkah Ramadan, ini namanya.


Tapi, boleh kita sadari, selayaknya bulan Ramadan yang hadir sekali dalam dua belas bulan komariah, hal-hal tersebut menjadi sangat ekslusif. Maka dari itu, semua hal yang hadir hanya pada bulan suci ini jadi sangat dirindukan (apa lagi THR) karena belum tentu tahun depan kita masih bisa mengalaminya. Bahkan, deg-degannya “godin” dan becandaan “tara weh” pun akan dirindukan (canda rindu). Tak salah, banyak orang percaya bahwa sebaik-baiknya bulan, ya bulan Ramadan. Di bulan inilah perihal beribadah ditingkatkan dan pahalanya dilipatgandakan. Juga, karena pada bulan inilah banyak hal-hal yang tidak dapat ditemukan di hari di bulan-bulan lainnya, kecuali FYP Tiktok, berita perang, dan ditangkapnya pejabat oleh KPK yang bisa kita saksikan juga di bulan-bulan lain.

Deden Fahmi Fadilah Ingin menjadi ikan Koi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.